Kucuran duit lewat Kartu Sakti Bertuliskan 'Kecebong Zaman Now' PSI


Tampilan kartu bergambar kecebong hijau itu terlihat unik. Seukuran kartu uang elektronik. Bertuliskan 'Kecebong Zaman Now'. Sebuah kalimat viral di dunia maya untuk menyindir para pendukung Presiden Joko Widodo. Kartu tersebut dihadirkan pendatang baru dunia politik Tanah Air, Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Mereka menamakan ini sebagai Kartu Sakti. Akronim dari kartu Solidaritas Anti Korupsi dan Intoleransi.

Gambar kecebong hijau salah satu varian dihadirkan PSI. Ada beberapa model lain dan bisa dimodifikasi sesuai keinginan. Fungsinya sederhana. Seperti uang elektronik. Untuk naik transportasi umum maupun bayar Tol. Bekerja sama dengan bank milik negara. Tiap kartu juga memiliki harga berbeda. Dari Rp 25 ribu per tahun hingga Rp 1 miliar per tahun.

Ide menghadirkan Kartu Sakti cukup berhasil. Mereka mampu meraup duit miliaran Rupiah. Mereka mengklaim banyak pelajar, mahasiswa hingga para pengusaha banyak memberi kontribusi. Para pembeli Kartu Sakti mereka sebut kontributor. Seperti ketika dirilis pertama kali pada 19 Januari lalu. Ada 200 orang tamu mereka undangan. Dari situ, partai nomor urut 11 ini mampu mengumpulkan dana sekitar Rp 2,4 miliar dalam sehari. Dana dari penjualan kartu itu nantinya digunakan untuk operasional partai.

Dari informasi kami dapat, ada pengusaha rela mengucurkan dana hingga miliaran. Ketua DPP PSI, Tsamara Amany, tak menampik hal tersebut. Dia mengaku memang ada seorang pembeli Kartu Sakti PSI jenis VVIP senilai Rp 1 miliar. Sayangnya perempuan 22 tahun menolak membuka nama kontributor itu. Meski dalam banyak kesempatan mereka sering menegaskan sebagai partai transparan.

"Di hari pertama ada yang menyumbang sampai Rp 1 miliar, itu paket yang paling tinggi," kata Tsamara kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Kami mencoba menelusuri aliran dana Kartu Sakti itu. Dari situs psi.id, mereka tidak memberikan penjelasan berapa dana sudah terkumpul maupun nama para pembeli kartu. Sampai kami menyambangi kantor Dewan Pengurus Pusat (DPP) PSI di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Lokasinya berada di sebelah kanan bila dari menuju arah Tanah Abang. Gedung warna putih itu memiliki empat lantai. Memasuki gedung, ada tiga ruangan di lantai dasar. Ruang penerima tamu, aula dan satu ruangan tertutup di sebelah kanan pintu masuk,

Banyak cinderamata milik PSI dipajang dan dijual. Mulai dari baju hingga payung. Hampir semua para pekerja di markas DPP PSI memakai jaket merah. Hari itu para pengurus pusat PSI tengah tak ada. Seorang resepsionis perempuan kami temui mengaku semua bosnya tengah banyak urusan di luar kota.

Lantas kami ditemukan dengan Sita, asisten Ketua Umum PSI Grace Natalie. Dia tidak bisa memberikan data tanpa seizin atasannya. Dan meminta kami untuk menunggu. Hingga tulisan ini diturunkan, Grace melalui asistennya belum memberikan jawaban sebagai partai memiliki platform menjunjung tinggi transparansi

Sedangkan Tsamara berdalih pihaknya masih baru mendata berbagai sumbangan masuk. Untuk itu, pihaknya mengaku akan membuka data penggalangan dana kartu sakti setelah satu tahun. Walaupun nantinya tak semua data akan diungkap ke publik. Sebab, mereka merasa perlu melindungi privasi donatur bila tak ingin diketahui namanya.

"Tapi kita akan buka berapa sumbangan yang akan diterima setiap tahun, digunakan untuk apa saja, itu bentuk pertanggungjawaban kepada publik," ungkap Tsamara.


Sebagai pendatang baru, PSI turut meramaikan khazanah politik Indonesia. Mereka menawarkan gaya politik lebih milenial dan menyasar anak muda. Di bawah pimpinan Grace Natalie, mantan jurnalis televisi dan bekas direktur Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC). Partai berlambang bunga mawar ini, ingin menghilangkan politik gaya lama, klientalisme, rekam jejak, beban sejarah dan citra buruk.

Untuk itu salah satu terobosan dibuat mereka adalah penggalangan dana partai politik. Sebagai partai mengedepankan transparansi, Grace ingin dana partai berasal dari masyarakat. Sehingga mencerminkan bahwa PSI milik publik. Bukan perorangan atau korporasi. Sebab, mereka menilai masalah terbesar dalam dunia politik, yakni adanya sekat.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni, mengaku tradisi patungan tak hanya ada saat munculnya Kartu Sakti. Jauh sebelum lahirnya program ini, pembiayaan kegiatan partai dilakukan secara urunan. Donatur pun tak hanya dari kader, tetapi pihak lain di luar partai. Hanya saja kala itu hanya sekedar dicatat dalam pembukuan keuangan partai.

Berbeda dengan para petinggi DPP PSI, pengurus wilayah PSI DKI Jakarta justru selangkah lebih maju. Ketua DPW PSI Jakarta Michael Victor Sianipar, mengatakan telah melakukan transparansi keuangan lewat situs resmi dan bisa diakses publik. Yakni, dengan membuka melaporkan membuka akses laporan keuangan PSI wilayah DKI Jakarta.

Lewat situs resminya jakarta.psi.id, pengurus wilayah mengunggah laporan keuangan PSI DKI Jakarta. Paling anyar, DPW PSI DKI Jakarta membuka laporan keuangan partai sepanjang tahun 2017. Dalam situs itu, tertulis DPW PSI menerima donasi sebanyak Rp 1.383.637.500. Dana itu berasal dari patungan. Dalam penjelasannya, uang tersebut diberikan para kontributor PSI Jakarta untuk memenuhi kebutuhan kinerja PSI DKI Jakarta. Uang tersebut terkumpul melalui acara Patungan Rakyat dan pendekatan personal.

Dana patungan diperoleh, terbagi menjadi dua kelompok. Yakni patungan acara sebesar Rp Rp 504.237.500 dan patungan non acara sebesar Rp 879.400.000. Adapun acara patungan rakyat dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu tanggal 16 September, 30 September dan 10 November 2017. Konsep penggalangan dana ini tak jauh berbeda dengan konsep Kartu Sakti. Dibagi menjadi empat kategori: Kategori I di bawah Rp 1 juta, kategori II Rp 1 juta - Rp 9,9 juta, kategori III Rp 10 juta - Rp 49,9 juta dan kategori IV di atas Rp 50 juta.

Sementara itu, terkait transparansi kartu sakti menjadi tanggung jawab pengurus pusat PSI. Namun, dia memperkirakan ada ratusan warga Jakarta telah memiliki kartu sakti. Tak hanya dari kalangan milenial, para pemilik kartu sakti di Jakarta didominasi kalangan senior memiliki keuangan lebih mapan. "Karena sumbangan itu kan sesuai dengan kemampuan dan gerakan hati," ucap Michael kepada merdeka.com.

Michael tak memungkiri bahwa penyumbang Kartu Sakti lebih banyak berasal dari kalangan profesional dan pengusaha. Sebab, masyarakat menengah ke bawah masih enggan untuk ikut berkontribusi. Sebab, kata Michael, kebanyakan warga kelas bawah memilih menggunakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dibanding menyumbangkan untuk partai politik.

Untuk itu, PSI lebih mengincar kalangan menengah. Dengan itu, dirinya meyakini mereka memiliki kepedulian terhadap perkembangan politik di Indonesia. Hingga kini kelas menengah menjadi kontributor PSI berasal dari pengusaha, pengacara, akuntan sampai pegawai kantoran. Kebanyakan mereka memberikan donasi pada angka jutaan Rupiah. Bahkan sampai Rp 500 juta.

"Yang nyumbang 500 juta juga ada, ya itu karena dia percaya sama PSI saja," ungkapnya.

Senada dengan para pengurus pusat, Michael menegaskan pemilik Kartu Sakti bisa mendapatkan kesempatan khusus pada acara diselenggarakan PSI. Misalnya dalam rapat pimpinan nasional. Mereka akan dihadirkan sebagai tamu undangan. Dan, berhak memberikan saran atau kritik terhadap kebijakan diambil dalam rapat tersebut.

Cara lain untuk mendapatkan dana, PSI juga kerap mengadakan acara seminar menghadirkan tokoh nasional. Peserta umum dikenakan biaya. Mereka membayar sejumlah uang untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut. Sedangkan pemegang kartu sakti bisa mendapatkan potongan harga maupun cuma-cuma.

Disinggung memiliki cara sama dengan komunitas TemanAhok saat menggalang dana, Michael tak membantah. Dia mengaku politisi melakukan penggalangan dana untuk operasional politik lebih baik. Ini dikarenakan bila politisi berkampanye tak menggunakan dana publik, sepatutnya dicurigai. Pihaknya mengklaim sudah menjadi partai bersih lantaran melakukan penggalangan dana untuk kegiatan partai politik.

Penggalangan dana dilakukan komunitas itu pada awalnya untuk mengusung dan mencalonkan Basuki T Purnama alias Ahok dalam Pilgub Gubernur DKI Jakarta 2017 lalu, secara independen. Meski hasilnya Ahok tetap memilih diusung partai dan kalah dalam pemilihan. Untuk itu, Michael merasa cara dilakukan TemanAhok bisa memberikan edukasi politik baik kepada masyarakat. Sehingga PSI tak ragu untuk mengikuti jejak TemanAhok.

"Sebetulnya kita mengapresiasi apa yang mereka lakukan. Makanya konsep itu yang kita jalanin. Kalau kita mau jadi partai yang bersih, anggota yang bersih kita harus lihat dari masa kampanye yang konsisten," tegasnya. [ang]