Dahnil Sebut Ada Hambatan Non-Teknis dalam Kasus Teror Novel, Apa Maksudnya?


Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut ada faktor non-teknis yang menyebabkan kasus penyiraman air keras penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan tak kunjung selesai.

“Yang membuat kasus ini nggak selesai bukan masalah penyidikan. Tapi hambatan non teknis,” kata Dahnil saat ditemui Kiblat.net di Gedung PP Muhammdiyah Menteng, Jakarta, Jumat (16/03/2018).

“Yaitu faktor politik, karena ada dugaan yang sering disebut Novel adalah jenderal. Nggak mungkin yang namanya polisi pangkat AKBP itu mengusut dugaaan orang orang yang secara politik disebut high profile person,” imbuhnya.

Dahnil menambahkan bahwa tak ada hambatan teknis dalam kasus penyerangan Novel. Karenanya, dia bersama sejumlah elemen masyarakat yang lain meminta agar dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Lembaga itu diharapkan berada di bawah koordinasi presiden langsung.

“Kami sudah berulang kali mengatakan ini sama dengan kasus Siyono jeruk makan jeruk, nggak akan pernah tuntas. Oleh sebab itu supaya jeruk ini bisa ditangkap, kasih ke yang lain yang bukan jeruk,” tuturnya.

Dia juga menyebutkan bahwa sejak awal pesimis polisi akan menyelesaikan penyerangan terhadap Novel tersebut. Sebab, Kapolri maupun presiden tak menunjukkan sikap yang terang terkait dengan dorongan pembentukan TGPF.

Dahnil menegaskan keberadaan TGPF nantinya bukan untuk mempersulit proses penyidikan. “TGPF bukan berarti menganulir tugas penyidikan kepolisian, tapi melengkapi tugas kepolisian,” tandasnya.