Warganya Tidak Berani Hidup Mewah Karena Takut Malapetaka


Kehidupan di Kampung Keputian, Desa Kertasari, Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon sungguh terlihat sederhana jauh dari kemewahan. Hingga kini, mereka masih memegang teguh prinsip desanya dengan tidak hidup bermewah-mewah.

Bahkan, untuk membangun dinding rumah saja, warga setempat takut akan mendapat musibah. Warga Kampung Keputian masih percaya keyakinan tradisi turun menurun. Bila berlaku sombong dan bermewah-mewahan akan menerima malapetaka dan semasa hidupnya dirundung dalam kesengsaraan.

Untuk diketahui, Kampung Keputian hanya didiami sekitar 29 kepala keluarga dan hanya ada 11 rumah yang ditinggali. Bangunan rumah warga masih banyak yang menggunakan wulit, semacam anyaman dari daun tebu atau daun kelapa untuk atap rumah.

Warga Keputian meyakini warisan pesan leluhur untuk tidak membangun rumah mewah. Bagi warga setempat, rumah berdinding tembok dan pilar yang kokoh merupakan simbolisasi kesombongan.

"Kami bingung mau bangun rumah. Padahal sekedar ditembok atau dikeramik. Karena pesan dari leluhur nggak boleh dibangun yang macam-macam (mewah)," ungkap Sartino, 70, sesepuh warga Keputian Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon saat ditemui di rumahnya, Rabu (28/8).

Sartino menuturkan, kejadian warga mendapat musibah bukan sekali dua kali terjadi. Suatu ketika, saat ada pendatang dari desa tetangga yang hendak bangun rumah megah, tidak lama setelahnya meninggal. Padahal, sebelumnya sudah diingatkan bahwa adat istiadat setempat melarang membangun rumah mewah.

Tak sampai di situ, Sartino pun mengalami kejadian serupa. Ia mengaku saat keluarganya berencana merenovasi sumur dengan membuat tembok pembatas tepat di belakang rumah. Niat hati bukan untuk melanggar titah leluhur, akan tetapi sumur diperbaiki untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan berwudhu. Tak lama kemudian, anak lelakinya jatuh dekat sumur dan mengalami sakit.

"Waktu itu, sekitar tahun 2000-an. Saya nggak punya niat mau melanggar kepercayaan adat. Tapi cuma mau benerin sumur untuk mandi, buat wudhu pun enak. Nggak tahunya ada kejadian," tutur Sartino.

Sambil mengingat-ingat sejarah Kampung Keputian, Sartino mengisahkan jika dulu pernah ada keturunan dari Keraton Kanoman (Elang Kanoman) yang sering berkunjung ke desanya. Elang Kanoman waktu itu pernah berisyarat untuk menjaga adat Kampung Keputian dan Sumur Jalatunda yang ada di pendopo.

Sartino menjelaskan, Sumur Jalatunda merupakan warisan leluhur warga Kampung Keputian yang dipercaya memiliki karomah. Sumur tersebut sangat jernih dan tidak pernah habis airnya. Sejak dahulu banyak warga yang mengambil air di Sumur Jalatunda. Baik sekedar untuk kebutuhan kebersihan atau untuk mengobati penyakit.

"Sampai sekarang masih saja ada warga yang ngambil air di sumur itu, katanya berkhasiat untuk mengobati penyakit," kata Sartino.

Kuncen Sumur Jalatunda, Bu Waji pun membenarkan bahwa di Kampung Keputian, tidak boleh berlaku sombong dan angkuh. Ia dipercaya menjaga sumur oleh para leluhur untuk merawat sumur yang menjadi simbol kejernihan. Nama kampung Keputian sendiri berasal dari mutih atau putih yang berarti kerendahan hati.

"Tanah di sumur ini, milik desa. Sampai sekarang dipercayakan saya untuk menjaga sumur ini," ujarnya.

(wiw/JPC)