Suasana Pemilu dan Ramadhan Mirip, Penista dan Pembenci Tiba-tiba Relijius ke Muslim


Tidak sedikit yang menyatakan bahwa tahun 2018 ini sebagai tahunnya politik. Ratusan Pilkada serentak bisa dikatakan adalah tanda dari penyebutan itu (tahun politik).


Masing-masing partai pun di antaranya sudah sebagian besar memajukan calonnya untuk berkompetisi dengan calon lain. Seperti di Jawa Barat, kini sudah memiliki empat pasanga calon.

Melihat kondisi ini (Pemilu), salah satu pengamat menyatakan bahwa suasananya tidak jauh seperti bulan suci Ramadhan. Di mana orang yang tak suka dengan umat Islam tiba-tiba berubah 180 derajat menyukainya. Hal ini tentunya tidak lain nampaknya ingin meraih hati umat mayoritas ini.

“Suasana Pemilu dan Ramadhan di Indonesia itu mirip. Pas Pemilu, para pembenci dan penista tiba-tiba muncul menjadi sangat religius agar dipilih umat Islam. Pas Ramadhan, semua pembenci dan penista juga rame-rame muncul pasang iklan di TV agar produknya dibeli Umat Islam,” demikian kata Mustafa Nahrawardaya melalui akun Twitter pribadinya, Selasa (09/01/2018).

Sebelumnya juga sempat disinggung oleh tokoh lain seperti penulis, bahwa Pilkada banyak yang seperti memanfaatkan momen agar masyarakat memilihnya. Di antaranya adalah atribut yang digunakan oleh calon yang melambangkan relijiusitas.

“Selain peci dan sorban yang tiba-tiba menjadi busana favorit menjelang Pilkada (dan kemudian tidak dipakai lagi hingga 5 tahun berikutnya), yang biasanya semarak adalah umrah bersama buzzer. Kita akan melihat wajah-wajah khusyuk di Medsos, seolah pertanda umrahnya maqbul,” kata Moh. Fauzil Adhim.[www.tribunislam.com]

Sumber : voa-islam.com