Para Menteri, Mikir! Jangan Cuma Nyatet


Bagaimana perekonomian kita saat ini? Jika diibaratkan orang sakit, Presiden Jokowi menyebut kondisi ekonomi kita sebenarnya baik-baik saja. Jantung sehat, liver juga sehat. Hanya saja tak bisa lari. Karena itu kata Presiden, mesti dicari masalahnya. Para menteri jangan hanya nyatet atau malah merasa seperti raja.

Tapi kudu turun ke lapangan untuk cari solusi.

Hal ini disampaikan Jokowi saat membuka rapat terbatas dengan topik peningkatan investasi dan perdagangan. Rapat yang digelar di Istana Negara ini digelar pukul 10.30 pagi. Ada yang berbeda dari rapat kali ini. Biasanya Jokowi datang belakangan barengan dengan Wapres Jusuf Kalla setelah para menteri berkumpul. Dalam rapat kali ini Jokowi sudah standby di lokasi sekira sepuluh menit sebelum acara. Dalam foto-foto yang disebar Biro Pers Media Istana, sambi menunggu kehadiran para menteri, Jokowi tampak membuka-buka kertas sambil duduk di kursi yang ada di ujung meja dengan latar ukiran gunungan wayang raksasa yang terbuat dari tembaga. Sesaat kemudian, satu per satu menteri tiba dan mengisi kursi yang disediakan. Baru setelah menteri hadir, Jokowi pindah ke tengah di samping JK.

Apa yang disampaikan? Jokowi menginstruksikan para menterinya untuk fokus bekerja dan konsentrasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Tanah Air. Utamanya terkait penyelesaian masalah di bidang investasi dan ekspor atau perdagangan luar negeri. "Semuanya harus satu garis, satu arah sehingga problem-problem yang dihadapi di lapangan itu betul-betul bisa kita tangani dengan baik," kata Jokowi.

Jokowi juga mengingatkan jajarannya untuk memanfaatkan dan menjaga dengan baik kepercayaan yang telah diberikan dunia internasional terhadap pengelolaan ekonomi Indonesia yang dinilai semakin membaik. Seperti peningkatan peringkat kemudahan berbisnis, peringkat layak investasi, hingga peringkat utang jangka panjang Indonesia dalam mata uang asing dan lokal yang naik menjadi peringkat BBB dengan outlook stabil menurut Fitch Ratings.

Jokowi mengajak para menteri bersama-sama mencari solusi dari sejumlah permasalahan yang dianggap menghambat iklim investasi dan perdagangan. "Kita ini kalau diibaratkan orang sakit, kita ini baik semuanya. Kolesterol baik, jantung baik, paru-paru baik, darah tinggi juga tidak ada, tapi kok tidak bisa lari cepat? Ini problemnya harus dicari," tuntasnya.

Usai rapat, Mentei Kemaritiman Luhut Panjaitan menjelaskan, dalam rapat tersebut Jokowi juga menginstruksikan para menteri dan pejabat pemerintahan untuk tidak segan-segan berkomunikasi dengan para investor terkait hal-hal yang masih mengganjal mereka untuk melakukan investasi. Pejabat jangan hanya mencatat atau membuat laporan. "Sekali-sekali itu datangi (investor) tanya masalahnya apa, apa yang harus diselesaikan," kata Luhut, di Kemenko Maritim, kemarin.

"Jadi jangan pejabat itu, Menteri itu jangan merasa seperti raja, harus terus didatangi," imbuhnya.

Luhut juga menyampaikan dalam rapat tersebut Jokowi menginstruksikan untuk menyederhanakan peraturan yang berkaitan dengan proses investasi seperti perizinan dan sebagainya. Jangan terlalu banyak birokrasi. "Kita harus jemput bola," jelasnya.

Pengamat ekonomi dan kebijakan publik Syafril Sofyan mengatakan sulit untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi saat ini. Apalagi selama tiga tahun ke belakang, pertumbuhan ekonomi stagnan di kisaran 5 persen. Menurut dia, melambatnya perekonomian lantaran makin sulitnya kaum miskin mengakses sumber daya, menyekolahkan anaknya dan tidak punya peluang juga untuk berinvestasi. Ditambah standar hidup yang rendah sehingga menurunkan tingkat produktivitas. Selain itu, kaum kaya pikir-pikir untuk berinvestasi atau malah menyimpan dananya di negeri orang. "Akibatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia per kapita jadi makin lambat," kata Sjofyan, kemarin.

Dia menyebut, untuk bisa melakukan loncatan pertumbuhan ekonomi maka pemerintah harus menerapkan konsep kemandirian, tanpa utang.

Sumber: rmol