Ngerii... Banyak Remaja Ngelem di Kawasan Pelabuhan Pasuruan, Wahai Orang Tua Waspadai Pergaulan!


 Para orang tua di Kota Pasuruan kini patut mewaspadai pergaulan putra-putrinya. Selain bahaya narkoba dan seks bebas, kini banyak perlakuan menyimpang yang kian sering ditemukan. Salah satunya adalah ngelem (menghirup udara dari lem, Red).

Perilaku menyimpang tersebut, kini berani dilakukan di tempat umum. Seperti di Pelabuhan Pasuruan, Jumat sore (5/1). Jawa Pos Radar Bromo sempat memantau sejumlah anak muda yang diperkirakan usianya masih remaja. Di sana, sekelompok remaja kedapatan tengah asyik “mabuk” dengan cara menghirup udara dari lem.

Parahnya lagi, mabuk ngelem tersebut tak hanya dilakukan oleh remaja putra saja. Tapi, beberapa remaja putri sepertinya tak ingin ketinggalan untuk melakukan hal sama. Mereka duduk-duduk sambil berbagi kaleng berisi lem untuk dihisap secara bergantian. Para remaja ini terlihat happy dengan lem yang mereka hirup, tanpa memperhatikan lalu-lalang warga yang melintas di depannya.

Meski berada di tempat terbuka dan jadi perhatian pengguna jalan, tak satu pun warga berupaya menegur atau membubarkan kegiatan mereka. Ironisnya lagi, pesta ngelem yang mereka gelar tersebut lokasinya hanya beberapa meter dari Pos KP3 Pelabuhan Kota.

Fenomena ngelem seperti ini makin hari kerap terjadi di wilayah Kota Pasuruan. Beberapa remaja mabuk lem kerap dijumpai di bawah jembatan dan seringkali di tempat-tempat sunyi lainnya. Jika kenakalan seperti ini dibiarkan dan menjadi hal umum di kalangan masyarakat, tentu sangat membahayakan bagi kelangsungan perkembangan hidup mereka.

Ini, bahkan terlihat saat sejumlah remaja yang ada di pelabuhan, tak menghiraukan. Bahkan, mereka terlihat ngakak (tertawa lebar, Red), hingga sebagian berjalan sempoyongan. Mereka pun acuh, meski banyak warga yang melihat. Dengan asyiknya, lem yang dimasukkan ke dalam plastik, mereka hirup layaknya meminum es.

Atas kebiasaan tersebut, Kasatreskoba Polres Pasuruan Kota AKP M Logo Tadu ikut memberikan komentar. Dia sepakat bahwa kebiasaan ngelem adalah perbuatan menyimpang. Sebab, zat adiktif yang terkandung di dalam lem, memang bisa menimbulkan rasa halusinasi.

“Mungkin maraknya lem ini, menjadi ‘pelarian’ lantaran saat ini sangat sulit mencari obat atau pil keras. Sehingga, mereka memilih lem agar mencari sensasi mabuk,” beber Tadu. Selain lem, kini juga marak menghirup kutek.

Namun begitu, lem bukanlah masuk kategori narkoba. Bukan pula tercantum dalam UU Kesehatan, seperti penyalahgunaan obat keras (daftar G), yang acapkali digunakan untuk teler. Sehingga, banyak orang yang “berani” menggunakan lem ini.

“Tapi, bukan berarti tidak bisa ditangani. Para pelakunya, bisa dikenai tipiring. Kebiasaan itu harus segera diantisipasi. Karena dari sana, bisa jadi peredaran narkoba muncul,” jelas Tadu.

Bisa jadi, saat menghirup, lem sudah dicampur dengan obat atau cairan tertentu. Ini yang harus diantisipasi.

Jika ada warga yang melihat orang menggunakan lem, sebaiknya warga melapor ke Polsek terdekat. “Harus segera diantisipasi. Karena kebiasaan ini bisa semakin meluas, kalau tidak cepat ditangani,” pungkas Tadu.

DIHIRUP: Lem yang dimasukkan plastik kemudian dihirup oleh sejumlah pemuda. (Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)