Mengerikan inilah Tantangan Umat Islam Indonesia di Tahun 2018


Melihat dari situasi sekarang ini, sepertinya tantangan muslim di Indonesia agaknya akan semakin berat. Mengingat tahun 2018 adalah tahun politik, di mana akan diadakan pilkada serentak di 171 daerah. Umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri ini akan menjadi “komoditas” yang menarik di ajang lima tahunan ini. Hal di atas menjadi salah satu tantangan umat Islam di tahun 2018, ditambah lagi tantangan-tantangan lainnya yang tentu akan semakin menguji keistiqamahan dan keimanan.

1. Tahun Politik

Sebagaimana telah disinggung di atas tadi, bahwa tahun 2018 adalah tahun politik, dan suhu ini akan semakin panas mengingat tahun 2019 adalah pemilihan presiden.

Pada tahun ini para cagub dan cabup akan berlomba-lomba memikat hati umat Islam. Berbagai cara akan dilakukan, mulai dari cara-cara legal hingga cara-cara ilegal. Contohnya, dengan sowan ke pesantren-pesantren, mengadakan pengajian, pembagian sembako gratis, merekrut relawan kampanye dan cara-cara lainnya. Janji-janji kampanye-pun diumbar mulai dari janji pembangunan hingga janji kesejahteraan rakyat,terkadang para calonpun juga akan ‘jualan’ kartu, kartu sehat, kartu sekolah dan kartu-kartu lainnya.

Sementara di sisi lain, musuh-musuh Islam melalui agen-agen mereka, akan terus mengkondisikan lewat opini-opini media cetak atau online agar umat Islam tidak membawa agama dalam kancah politik, jauhkan isu SARA dari politik, hati-hati politisasi agama dan jargon-jargon lainnya. Mereka ingin agar umat Islam menjauhkan agama dari negara.

Di sinilah tantangan umat Islam, di sinilah idealisme umat Islam dalam mewujudkan pemimpin yang takut kepada Allah, patuh dan tunduk terhadap aturanNya, bekerja mewujudkan maslahat umat dengan koridor syar’i, terhadang oleh realitas demokrasi yang sering terjadi. Jika masa kampanye menjadi ajang ‘tebar uang’, maka seringkali pasca terpilih para kontestan akan berupaya mengembalikan modal sekaligus mengeruk keuntungan. Realitas itulah yang membuat upaya mencari sosok pemimpin islami nan ideal seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

Lantas apa sebaiknya yang dilakukan oleh umat? Upaya menghadirkan pemimpin Rabbani harus dilakukan, walaupun seperti mencari jarum di tumpukan jerami, namun umat jangan putus asa, karena di dalam Islam, makna ulil amri selain bermakna kepemimpinan politik, juga bermakna kepemimpinan agama, yaitu ulama.

Karena ulama yang hanif adalah pewaris Nabi, ulama yang tidak silau dengan gemilau dunia, ulama yang tahan terhadap tekanan musuh, ulama yang tidak berhenti berdakwah mencegah kezaliman dan kemungkaran, ulama yang tidak menjadi alat politik penguasa, ulama yang senantiasa membimbing umat ke jalan yang diridhoi oleh Allah.

2. Solidaritas Muslim Tertindas

Karena tahun 2018 adalah tahun politik, sehingga yang akan sering menjadi sorotan adalah peristiwa-peristiwa politik, sehingga tak jarang fokus terhadap politik membuat isu-isu muslim tertindas menjadi terpinggirkan.

Padahal, hingga saat ini belum ada tanda-tanda bahwa mereka akan lepas dari ketertindasan. Sebut saja umat Islam Palestina, yang belum lama dunia dibuat geger oleh pengakuan Donald Trump terhadap Al-Quds sebagai ibukota Israel.

Pasca pengakuan tersebut jumlah kekerasan terhadap warga Palestina di kawasan semakin meningkat, meski ada penolakan dari negara-negara lainnya tapi Amerika tetaplah Amerika dan Israel tetaplah Israel. Hingga detik ini negara Israel masih bercokol di tanah haram umat Islam.

Konflik lain yang harusnya tidak lepas dari perhatian umat Islam adalah konflik Suriah. Konflik Suriah saat ini memasuki tahun ke tujuh, namun belum ada tanda-tanda akan berakhir. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, ikut campurnya Rusia dalam mendukung Bashar Asad menjadi satu sebab, ditambah beberapa friksi internal yang terjadi di kalangan para mujahidin. Tapi di tengah itu semua ada satu fakta yang tidak terbantahkan, yaitu korban yang terus bertambah. Baik korban meninggal karena bombardir pesawat tempur Rusia, maupun korban mengungsi.

Kenyataan di atas, seharusnya melecut semangat kita sebagai muslim untuk terus meningkatkan solidaritas kepada muslim Suriah, memperbanyak do’a untuk persatuan para mujahidin dan megulurkan bantuan untuk para korban luka, meninggal dan mengungsi. Meskipun, pihak-pihak tertentu berupaya mengaburkan fakta di atas dengan isu ISIS dan terorisme, namun mereka hanya sedang mencoba menutup sinar purnama di tengah malam yang cerah.

Bergeser ke selatan sedikit ada Muslim Rohingnya yang terus tertindas. Tidak diakui di Myanmar sebagai warga negara padahal nenek moyang mereka sudah menempati daerah tersebut ratusan tahun lamanya. Kampung dibakar, mereka diusir, dikejar-kejar sehingga terpaksa melarikan diri dari tanah leluhur mereka.

Solidaritas terhadap mereka jangan luput dari mata kita, jangan berhenti tangan mengusap air mata mereka, jangan lelah bahu memanggul beban mereka, jangan habis upaya membantu mereka, karena muslim yang satu dengan lainnya bagaikan satu tuuh. Perih yang satu adalah perih bagi lainnya.
3. Kriminalisasi Aktifis dan Ulama

Sadar atau tidak, pasca kasus penistaan agama di Indonesia, seolah publik terpecah menjadi 2. Pro Ahok dan anti Ahok. Polarisasi ini masih berlangsung meskipun kasus Ahok sebagai penista agama sudah diputuskan.

Kasus ini ternyata mengakibatkan banyak ulama dan aktifis yang dikriminalisasikan. Sebut saja Habib Rizieq, hingga hari ini masih berada di Arab Saudi yang dikriminalisasi melalui chat mesum. Ada pula kriminalisasi terhadap Munarman di Bali, kriminalisasi terhadap Ust. Alfian Tanjung, Ust Adnin Armas, Jonru, Hidayat dan serangkaian kriminalisasi lainnya.

Sementara di sisi lain, kubu pro Ahok yang melakukan pelanggaran seolah kasus hukum tidak ditangani dengan cepat secepat kriminalisasi para ulama dan aktifis.

Di tahun 2018, agaknya pelaporan-pelaporan terhadap aktivis dan ulama akan terus belanjut. Oleh karena itu umat diminta siap melakukan upaya advokasi, baik secara hukum maupun secara opini terhadap para ulama dan aktivis yang menjadi korban kriminalisasi.

Karena ini adalah bagian dari nusrotul madzlumin (menolong orang yang terzalimi) yang diperitahkan oleh agama. Rasulullah SAW bersabda, “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim, maupun yang terzalimi.”

Di dalam hadits lain, beliau SAW berkata, “Tidaklah seorang muslim membiarkan seorang muslim ketika kehormatannya dirampas harga dirinya dilecehkan, melainkan Allah akan mmbiarkannya (tidak menolongnya) di waktu dia ingin Allah menolongnya.” (HR Ahmad)

4. Merebaknya Permisifisme dan Deislamisasi

Di awal bulan desember 2017 publik diramaikan dengan ditolaknya permintaan AILA kepada MK agar memasukkan LGBT dan Perzinahan ke dalam KUHP. Namun setelah melewati 23 kali sidang permohonan tersebut ternyata tidak dikabulkan. Di akun-akun medsos pegiat LGBT bagi mereka ini adalah kemenangan. Sementara bagi umat Islam peristiwa ini adalah tragedi.

Belum usai pro kontra LGBT dan perzinahan, di akhir bulan Desember, pro kontra tentang ucapan selamat Natal kembali menyeruak. Di tengah kesadaran umat bahwa mengucapkan selamat Natal tidak diperbolehkan agama, masih ada saja “tokoh” Islam yang menganggap ucapan selamat Natal adalah hal yang biasa.

Beberapa waktu sebelumnya, MK juga mengesahkan JR (Judicial Review) yang diajukan oleh kelompok penghayat kepercayaan terkait penulisan agama di KTP. Disebutkan bahwa status penghayat kepercayaan disamakan dengan penganut 6 agama yang diakui di Indonesia.

Ditambah disahkannya UU Ormas yang pada prakteknya menyasar ormas Islam. Peristiwa-peristiwa di atas, menyiratkan bahwa ada upaya menghilangkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat. Baik secara langsung maupun tidak langsung.

Tidak hanya di level perundang-undangan, deislamisasi juga didukung oleh kaum liberal lewat kicauan-kicauan di twitter dan tulisan mereka di media. Media-media sekuler juga turut serta menggoreng setiap isu Islam dengan framing negatif.

Di tahun 2018, bukan tidak mungkin hal-hal serupa akan terjadi lagi. Oleh karena itu umat Islam harus siaga dan melawan setiap upaya-upaya deislamisasi dengan berbagai cara dan di segala aspek. Karena jika tidak ada upaya perlawanan, sedikit demi sedikit nilai-nilai Islam akan hilang di tengah masyarakat, sehingga Islam hanya tinggal nama, Al-Quran hanya tinggal tulisan, sebagaimana yang pernah diramalkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Ini adalah bagian dari inkarul munkar yang diajarkan oleh agama Islam. Karena Islam bukan hanya agama yang peduli terhadap keshalehan pribadi, namun juga agama yang mengatur keshalehan masyarakat. Jika keshalehan masyarakat meningkat, maka upaya deislamisasi akan mental dengan sendirinya.

5. Persekusi Ulama

Tidak ada dakwah yang sepi dari cobaan, tidak ada dakwah yang tidak ada penentangnya. Karena jika dakwah bisa berjalan mulus tanpa gangguan, tentunya dakwah itu tidak akan diemban oleh manusia sekelas para nabi.

Di setiap jalan dakwah mesti ada penentang. Ada Namrud yang menghalangi dakwah Ibrahim, ada Fir’aun yang menentang Musa, ada Abu Jahal yang menentang Nabi Muhammad SAW. Inilah tabiat dakwah, karena dakwah memiliki dua unsur, memberi kabar gembira dan memberi peringatan.

Belakangan fenomena ini juga tejadi di Indonesia. Persekusi terhadap dakwah Ust. Abdul Shomad di Bali, deportasi terhadap beliau di Hongkong, persekusi terhadap Felix Siaw, Ust Bakhtar Nasir dan para dai dan ulama lainnya.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para ulama, di sinilah konsistensi mereka diuji, momen inilah yang akan menaikkan derajat mereka di sisi Allah. Apakah mereka akan bertahan dan tetap menyuarakan kalimat haq atau mengambil jalan kompromi dengan kebatilan dan kezaliman.

Sebagai umat, kita harus memperbanyak doa kepada para ulama kita, agar mereka istiqomah dan tsiqoh di atas kebenaran. Sehingga kelak mereka menjadi ulama rabbani yang menjadi panutan umat.

Adapun sebagai langkah antisipasi, umat bisa memperkuat lascar-laskar umat, guna menjaga keamanan dakwah dan para ulama dari persekusi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab

6. Ekonomi Keumatan

Aksi 212 tidak hanya menciptakan gerakan politik umat Islam. Aksi ini juga memicu gerakan ekonomi umat yang cukup massif di berbagai daerah. Pendirian koperasi 212 mart yang menjamur sebagai bentuk perlawanan terhadap monopoli pasar.

Adanya himbauan belanja di warung tetangga demi menghidupkan ekonomi umat dan banyaknya ajakan-ajakan untuk menghindari praktek-praktek riba. Secara garis besar hal ini sudah mampu membangkitkan kesadaran umat. Namun di tahun 2018, umat masih memiliki PR sebagai solusi dari permasalahan ekonomi.

Di antaranya, bagaimana semangat umat mendirikan mart-mart islami, harus dibarengi dengan pengelolaan yang serius dari pihak pengelola. Karena ini adalah asset umat yang harus dipertanggungjawabkan secara keumatan juga.

Di sisi lain, ajakan-ajakan untuk meninggalkan riba, harus dibarengi dengan membangun lembaga-lembaga keuangan yang syar’i sebagai solusi bagi umat. Sehingga umat tidak permasalahan-permasalahan financing tersolusikan secara baik dan syar’i.

Wallahu a’lamu bissowab

Penulis: Arju

Kiblat