Masya Allah, Awal Membenci Islam Dari Doa, Herman Sjr Temukan Beneran dalam Islam


Herman SJr memiliki sederet gelar akademik yang menandakan keilmuannya tak dira gukan lagi. Berbagai penelitian saintifik sudah dibuatnya. Di tengah upayanya mendalami berbagai riset, dia menemukan berbagai tanda kebesaran Ilahi yang membawanya kepada Islam.

Doktor lulusan Universitas Sedona, Arizona, ini sejak kecil memang dididik untuk berpikir logis dan tidak membahas sesuatu tanpa fakta ilmiah. Dua pepatah la ma yang selalu diingatnya, yaitu 'yang di butuhkan kejahatan untuk menang adalah cukup orang baik yang tidak berbuat apa-apa'.

Selain itu, kutipan yang masih dipegang teguh lainnya, yaitu 'yang harus dilaku kan orang baik selain menemukan kebenaran adalah jangan sampai sebuah kebenaran terkubur, tak pernah diketahui, bahkan dilupakan, karena itu berbahaya'.Dua petuah bijak itu tertanam dalam pikirannya dan menjadi motivasi.

Membenci Islam

Suatu hari, tanpa rencana, Herman memutuskan untuk melakukan perjalanan ke sebuah tempat. Baginya, perjalanan ini seperti panggilan yang berasal dari nyanyian mitologi Yunani, The Sirens. Ini adalah panggilan untuk menemukan keindahan yang memesona kepada pelaut tanpa menaruh curiga, padahal mereka sedang ditarik kepada jurang kematian. "Alhamdulillah perjalanan ini tidak membawa kepada kematian, tetapi lebih dekat dengan kebenaran," kata Herman.

Puluhan tahun perjalanan kehidupan yang dilalui telah membentuknya menjadi se orang polimatik otodidak. Herman memiliki banyak kesempatan untuk me nempuh pendidikan di beberapa universitas dan mendapatkan banyak gelar. Perjalanan hidup memaksanya untuk melakukan penelitian di bidang falsafah dan agama.Pada masa inilah, Herman terjebak dengan sebuah kebencian terhadap kelembagaan agama serta salah menafsirkan agama.

Kebenciannya amat sangat ditujukan kepada Islam. Meski membenci Islam, aneh nya, agama ini terus muncul di dalam kehidupannya sehari-hari. Ke mana pun pergi dia selalu menemukan umat Islam. Berbagai literatur yang dibacanya selalu menceritakan tentang Islam.

Bahkan, penelitian yang dilakukannya membawa Herman kepada kesimpulan bahwa Allah adalah pencipta segalanya. "Ini sangat membingungkan saat saya sedang menggebu-gebu menyerang dan membenci Islam," ujarnya.

Sejak saat itu, dia mengambil keputusan untuk mengulangi penelitiannya mengenai Islam dan memperhatikan segala fenomena yang terjadi tentang Islam serta penganutnya. Kali ini, dia memastikan untuk menggunakan pola pikir yang murni dan tidak bias.

Herman ketika itu terus mengingat pernyataannya berulang kali yang dia ingat sejak kecil, bahwa dia mencari kebenaran terlepas arah mana yang akan dituju. Dalam penelitian mengenai setiap agama, jika menemukan kebenaran dalam agama Kristen maka dia akan menganut agama itu. Begitu juga ketika meneliti Buddha, Yahudi, Islam, dan lainnya.

"Saya mengerti jika benar-benar mencari kebenaran maka saya harus memastikan untuk mengikutinya ke mana pun dia mengarahkan, bukan hanya harapan dan apa yang saya yakini selama ini," kata dia.

Kemunculan Islam di hidupnya datang dari berbagai arah. Awalnya adalah ketertarikan terhadap budaya, seperti bahasa dan musik arab. Selain itu, Herman juga sering berkenalan dengan Muslim dan menjalin perteman an dengan mereka, baik wanita maupun pria.

Banyak dari mereka yang menganggap cara hidupnya seperti orang Mus lim karena keyakinannya terhadap kehidupan. Mulanya dia tidak menggubris anggapan tersebut. Namun, ketika dia mulai meninggalkan budaya Arab dan Islam, ada saja yang mengarahkannya kembali untuk mendalami keduanya.

Mempelajari Islam

Herman kemudian melanjutkan mencari kebenaran di dalam Islam melalui Alquran. Dia memulainya dengan mengaitkan sains dengan Alquran. Sebagai konsultan psikolog, Her man sangat ahli untuk menemukan kebenaran dalam Islam dengan mempelajari Alquran tanpa bias dan tanpa tergugah emosi. Sebisa mung kin dia menghindari ajaran yang mengandung dogma karena sifatnya yang tak melulu positif.

Sebisa mungkin, saat mempelajari Islam, Herman melepaskan diri dari ikatan emosional dengan ulama. Dia juga menjaga jarak dengan umat Islam agar pikirannya tetap rasional dan tidak terpengaruh oleh siapa pun. Meski demikian, dia tetap sering mengunjungi masjid dalam beberapa kesempatan.

Agar tidak terjebak dalam ikatan psikologis dinamika kelompok Muslim, dia memilih untuk bertemu satu per satu Muslim yang berpendidikan tinggi. Setiap Muslim yang ditemuinya tidaklah saling mengenal.

Herman mengajukan satu pertanyaan yang sama kepada semua orang tentang keimanan. Dia pun terkejut mendengar dari jawaban mereka yang biasanya hanya seputar perlawanan non-Muslim, wanita, dan perlawanan perempuan karena poligami.

Justru jawaban mereka sangat mencerahkan dan logis karena mereka memisahkan kebenaran dari rumor tersebut. Herman kemudian mengerti argumen yang diberikan non-Muslim terhadap Islam biasanya hanya bersifat budaya. Banyak dari mereka yang salah menafsirkan Alquran.

Herman kemudian mengetahui umat Islam benar-benar menggunakan Alquran sebagai landasan agama sesuai dengan wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad. Mereka yang menggunakan sains untuk mencari kebenaran se jati harus selalu ter buka terhadap kemung kinan bahwa kebenaran mereka bukanlah akhir.

Ada kebenaran yang lebih dalam yang mengarah lebih jauh. Bahkan, bagi orang beriman, tidak ada keta kutan di balik pernyataan ini karena mereka tidak takut pada apa pun atau siapa pun yang dapat mengemuka dan mengancam kebenaran.

"Saya berdoa akan diizinkan untuk te rus menemukan kebenaran ini untuk diri saya sendiri, dan bahkan untuk sesama saudara dan saudari saya dalam Islam," kata dia.

Sejak itu, dia memutuskan untuk bersyahadat. Dengan memeluk Islam, Herman me rasakan kehidupan yang lebih bermakna bagi diri sendiri dan orang lain. Dia menjadi lebih percaya diri dalam mela kukan riset. Berbagai penelitian yang dilakukan makin menuntunnya kepada keagung an Allah sebagai Sang Pencipta alam.

Perjalanannya dalam menemukan hidayah tidak terlepas dari bantuan rekan-rekannya sesama Muslim, terutama seorang penulis asal Mesir pendiri Amreeka Life, Mohamed Shedou. Dialah yang memberikan bantuan morel spiritual sehingga dengan mudah menemukan jalan Allah.

Republika