Hariman Siregar : Pembangunan Harus Ada Manfaat Bagi Rakyat, Pembangunan Ini Untuk Siapa?


Tokoh peristiwa Malari, Hariman Siregar, tak lelah menggugat pemerintah. Pasalnya, mantan aktivis mahasiswa tahun 1970-an mengaku meski rezim pemerintah silih berganti namun kemiskinan dan kesenjangan tak juga hilang. Sebaliknya kesejahteraan belum terwujud.

"Pembangunan ini untuk siapa? Reformasi sudah 20 tahun kenapa tidak bisa menjawab kemiskinan, keadilan dan kesejahteraan?," ujar Hariman Siregar di kampus UGM Bulaksumur, Yogyakarta, Senin (15/1/2018).

Hariman yang juga dokter lulusan UI ini menyampaikan hal itu saat pidato pembukaan acara peringatan 44 tahun Malari dan ulang tahun 18 tahun Indemo (Indonesia Democrazy Monitor). Hadir sejumlah tokoh dan para aktivis dalam acara ini.

Heriman sempat sedikit bergurau saat itu. Dia mengatakan bahwa sejak tahun 1970 an dia bersama para aktivis mahasiswa dari seluruh Indonesia menentang pemerintahan otoriter dalam berbagai peristiwa demonstrasi.

"Dulu kita tentang pemerintahan dengan demonstrasi kita ditahan, sampai sekarang kita demonstrasi tidak diapa-apain namun permintaan tak dipenuhi juga ha ha ha," papar Hariman yang justru mendapat applaus dan sambutan senyuman hadirin.

Hariman mengatakan bahwa dia dan kalangan aktivis tidak menentang atau alergi dengan pembangunan. Dia menegaskan setuju dengan pembangunan, namun seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

"Bung Karno dan kawan-kawan memerdekakan negara ini sebagai jembatan emas! Yaitu agar rakyatnya mendapatkan pekerjaan, pendidikan, kesejahteraan dsbnya," ujar Hariman.

Bersamaan dengan peringatan Malari inilah Hariman Siregar menegaskan bahwa tugas pemerintah adalah mengatasi kemiskinan dan kesenjangan serta mewujudkan kesejahteraan.

"Pembangunan harus ada gain (manfaat-red) bagi rakyat," ujar Hariman Siregar.

Pada kesempatan tersebut Hariman mengingatkan bahwa rasio gini semakin memburuk bukti kesenjangan semakin tinggi. Ironinya saat ini ada 40 orang kaya yang menguasai 120 miliar dolar Amerika, namun negara memiliki utang sekitar 400 miliar dolar Amerika.

sumber: teropongsenayan