Situs Pengganti Facebook Itu Ternyata Milik Alumni 212



Pihak Redaksitimes.com akhirnya angkat bicara menanggapi pernyataan Front Pembela Islam (FPI) tentang platform-nya yang akan menggantikan Facebook. Situs redaksitimes.com ternyata milik alumni 212.

Direktur Utama Redaksitimes.com Dody Pradipto YS mengatakan, pihaknya sama sekali tidak memiliki hubungan dengan FPI. “Kita nggak ada hubungan dengan FPI,” jelas Dody kepada JawaPos.com.

Meski demikian, Dody mengaku bahwa dia merupakan bagian dari gerakan massa 212 atau yang kini dikenal dengan alumni 212. “Kita memang pernah ikut di aksi itu (212, Red), namun secara khusus kita tidak memiliki hubungan atau koordinasi dengan FPI untuk menyerukan platform kita,” ungkap Dody.

Diketahui, Redaksitimes.com merupakan platform media sosial milik Dody Pradipto melalui PT Transglobalindo Nusantara, perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan data center dan Internet Service Provider, yang berdiri sejak 2001 silam di wilayah Medan, Sumatera Utara.

Redaksitimes.com dirancang berbasis Open Source Social Network. Platform tersebut resmi berdiri pada Juni 2017 lalu.

Dody mengklaim bahwa Redaksitimes.com memiliki peningkatan pengguna yang signifikan sejak seminggu terakhir. Hal itu berarti sama dengan waktu saat FPI menyerukan untuk memboikot Facebook beberapa waktu lalu.

Sekadar perbandingan, saat ini ada 1,37 miliar pengguna aktif Facebook. Secara tampilan, Redaksitimes menggunakan antarmuka Open Source Social Network. Fiturnya pun sangat jauh berbeda dengan Facebook.



Meskipun terbilang sangat baru, namun Dody sangat optimistis bahwa platform-nya itu akan banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya alumni 212.

“Kita sebagai saudara seiman pasti saling mendukung lah ya. Kita harapkan masyarakat dapat berhijrah ke media sosial yang lebih Indonesia gitu,” pungkas Dody.

Sebelumnya diberitakan, Sekretaris Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Front Pembela Islam (FPI) Jakarta, Novel Chaidir Hasan Bamukmin membenarkan pihaknya akan mengganti tiga aplikasi media sosial yakni Facebook, Google, dan WhatsApp dengan aplikasi yang diklaim buatan anak bangsa.

Sebagai gantinya, kini mereka tengah mempromosikan platform sejenis untuk digunakan dalam aktivitas mereka. Adapun platform yang dimaksud adalah Redaksitimes.com sebagai pengganti Facebook, Geevv.com sebagai pengganti Google, dan Callind sebagai pengganti WhatsApp.

(ce1/ryn/JPC)