Menyongsong Generasi Kebangkitan Islam, Ini Lima Ciri-cirinya, BERANI?


Para sejarawan mencatat berbagai macam kemenangan yang mampu diraih kaum muslimin dalam medan peperangan. Bila dihitung-hitung kembali, dari seluruh catatan peperangan yang dilakukan oleh kaum muslimin dalam melawan musuh, mayoritas dimenangkan oleh kaum muslimin. Mulai dari perang Badar di zaman Rasulullah sallallahu ‘alaihi sallam, hingga berujung pada peperangan Salib di masa Shalahuddin atau penaklukkan konstantinopel di masa Sultan Muhammad al-Fatih.

Memang sudah selayaknya kaum muslimin memperoleh kemenangan. Sebab, dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah ta’ala menjanjikan bahwa kemenangan serta kekuasaan di muka bumi ini hanya akan diwariskan kepada orang-orang beriman. Di antaranya Allah ta’ala berfirman:

 إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“….Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Al-A’raf: 128)

Jika dicermati lebih dalam maka akan kita dapati bahwa janji kemenangan itu tidak terbatas pada generasi tertentu saja. Demikian juga Allah ta’ala juga tidak menjajikan kemenangan itu hanya kepada umat Islam di wilayah tertentu saja. Namun janji itu menyeluruh diberikan kepada orang-orang beriman. Namun yang Allah batasi di sini hanyalah syarat dan ketentuan bagi siapa saja yang menginginkan kemenangan tersebut. Siapa pun dari generasi umat ini dan di mana pun hidupnya, ketika syarat dan sifat thaifah manshurah (Kelompok yang ditlong oleh Allah) itu diwujudkan maka Allah pasti menurunkan kemenangan kepada mereka.

Maka ketika ada yang bertanya, mengapa umat Islam hari ini belum mampu meraih kemenangan seperti umat-umat terdahulu, maka mungkin saja sifat atau syarat yang Allah tetapkan belum mampu diwujudkan dengan sempurna. Ketika Allah menjanjikan kemenangan bagi umat Islam, Allah menyebutkan berbagai macam sifat dan ciri-ciri generasi yang layak mendapatkan janji tersebut. Secara global, di antara ciri-ciri generasi tersebut ialah:

Pertama, Mentauhidkan Allah dan Tidak Menyekutukan-Nya.

Generasi yang layak mendapatkan kemenangan dari Allah ialah generasi yang menegakkan tauhid dan siap menupas segala macam bentuk penghambaan kepada selain Allah. Dalam Al-Qur’an surat An-Nuur ayat 55, Allah ta’ala nyatakan:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku…” (QS. An-Nuur; 55)

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir menuturkan, “Ini merupakan janji dari Allah SWT. kepada Rasul-Nya SAW., bahwa Dia akan menjadikan umatnya sebagai orang-orang yang berkuasa di bumi, yakni menjadi para pemimpin manusia. Dengan mereka, negeri akan menjadi baik dan semua hamba Allah akan tunduk kepada mereka. Dan Allah akan menukar keadaan mereka yang sebelumnya mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa dan menjadi penguasa atas manusia. Janji itu telah diberikan oleh Allah SWT kepada mereka – segala puji bagi Allah, begitu juga karunianya-. Karena sesungguhnya sebelum Nabi SAW wafat, Allah telah menaklukkan baginya Mekkah, Khaibar, Bahrain, dan semua kawasan Jazirah Arabia serta negeri Yaman seluruhnya. Beliau SAW sempat menarik jizyah dari orang-orang Majusi Hajar dan juga dari para penduduk yang ada di pinggiran negeri Syam (yang berada di dekat negeri Arab).” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/401)

Kemudian Ibnu Katsir menyebutkan berbagai macam kemenangan yang diraih kaum muslimin setelah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Lalu ia menyetir sebuah hadis sahih bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ، فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَسَيَبْلُغُ مُلْكُ أُمَّتِي مَا زُوي لِيَ مِنْهَا

“Sesungguhnya Allah menghimpunkan bumi untukku sehingga aku dapat melihat belahan timur dan baratnya. Dan kelak kerajaan umatku akan mencapai batas apa yang dilipatkan untukku itu.” (HR. Abu Dawud)

Kemenangan merupakan janji Allah yang pasti diberikan kepada orang-orang beriman. Dan di penghujung ayat di atas Allah sebutkan di antara ciri-ciri mereka, yaitu selalu meng-esakan Allah dan tidak pernah melakukan kesyirikan.

Kedua, Memiliki Iman yang Jujur dan Amal Shaleh

Allah ta’la berfirman:

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“…Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Ruum; 47)

Ketika iman dan amal shalih mampu dijaga dengan baik, maka Allah akan turunkan kemenangan dan kekuasaan. Sebab, Allah mengaitkan antara kemenangan dengan iman. Namun makna iman di sini bukan hanya sebatas percaya tanpa ada pembuktian. Iman yang dimaksud adalah iman yang sungguh-sungguh menghujam di dalam jiwa. Sebagaimana ungkapan Sayyid Quttub, “Sesungguhnya hakikat iman yang layak mendapatkan janji kemenangan dari Allah adalah iman yang lengkap dan membutuhkan seluruh tenaga manusia untuk mencapainya, menggerakkan semua tujuan hamba kepadanya. Sehingga ketika iman yang seperti itu menancap di dalam hati, maka akan menjadikan seluruh gerakan badan dan kesungguhannya hanya untuk Allah semata. Tidak ada yang ia harapkan kecuali ridha Allah. Senantiasa taat kepada Allah dan tunduk terhadap segala perintahnya, baik yang terlihat kecil maupun besar. Tidak ada unsur hawa nafsu dalam menjalankan ketaatan. Tidak ada syahwat yang dituruti. Dan hatinya tidak condong kecuali sesuai dengan petunjuk Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.” (Tafsir Fi Dzilali Qur’an, 5/292)

Ketiga, Lembut Terhadap Orang Mukmin dan Keras Terhadap Orang Kafir.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (Al-Maidah: 54)

Dalam tafsir Adwaul Bayan; 1/440, Imam Asy-Syinqiti menafsirkan, “Dalam ayat ini, Allah ta’ala mengabarkan kepada orang-orang mukmin bahwa seandainya sebagian mereka murtad maka Allah pasti menggantikan mereka dengan kaum yang di antara sifatnya dalah berlemah lembut dengan orang mukmin. Rendah hati terhadap semama mereka dan keras terhadap orang-orang kafir. Ini merupakan kesempurnaan iman seorang hamba. Dan sikap ini pula yang diperintahkan Allah kepada Nabi;

 واخفض جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِين

“..Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-hijr: 88)

Kemudian Allah ta’ala juga memuji sikap Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam yang senantiasa bersikap lembut terhadap orang-orang mukmin,“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Lalu dalam ayat yang lain Allah ta’ala menegaskan bahwa bersikap lembut dengan sesama mukmin dan tegas terhadap orang-orang kafir merupakan karakter Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

 مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ الله والذين مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الكفار رُحَمَآءُ بَيْنَهُم

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka,” (Al-Fath: 29)

Dari rangkaian ayat di atas dapat dipahami bahwa orang mukmin wajib bersikap lembut sesuai dengan kondisinya. Sama halnya wajib bersikap keras ketika dituntut untuk keras. Sebab, bersikap lembut pada kondisi harus tegas adalah lemah sedangkan keras pada kondisi harus lembut adalah kebodohan.

Keempat, Berjihad di Jalan Allah

Allah ta’ala berfirman:

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ

“….Mereka berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela..” (Al-Maidah: 54)

Ibnu katsir berkata, “Yakni mereka tidak pernah mundur setapak pun dari prinsipnya, yaitu taat kepada Allah, memerangi musuh-musuhnya, menegakkan batasan-batasan-Nya dan melakukan amar ma’ruf serta nahi munkar. Mereka sama sekali tidak pernah surut dari hal tersebut, tiada seorangpun yang dapat menghalang-halangi mereka, dan tidak pernah takut terhadap celaan orang-orang yang mencela dan mengkritiknya.” (Tafsir Ibnu katsir: 2/97)

Jihad merupakan wasilah yang dicontohkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam untuk meraih kejayaan Islam. Dengan jihad, izzah kaum muslimin akan tegak. Dengan jihad pula kemenangan agama Allah akan terus berlanjut. Cukuplah salah satu hadis berikut ini menjadi dasar yang kuat untuk menjelaskan bahwa jihad merupakan cara utama menjaga kemulian Islam. Dan Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa ketika jihad ditinggalkan maka umat ini akan berada dalam keadaan hina.

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem inah, mengikuti ekor sapi, rela dengan pertanian, serta meninggalkan jihad (di jalan Allah), niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, Dia tidak akan mencabutnya dari kalian, hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud)

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, “Itulah mengapa para sahabat tidak suka terlibat dalam pertanian bila mengalihkan perhatiannya dari jihad.” (Alhikamul Jadirah bil Idza’ah, hal; 14)

Kelima, Sabar dan Teguh dalam Memegang Prinsip

Rasulullah SAW adalah teladan bagi umat ini. Di antara teladan yang beliau ajrkan kepada kita adalah keteguhan memegang prinsip. Diriwayatkan dalam sirah Ibnu Hisyam bahwa ketika dakwah Nabi semakin mendapat tentangan dari Quraisy, hingga mereka mendatangi Abu Thalib, kemudian Abu Thalib pun menyampaikan hal tersebut kepada Nabi Muhammad SAW, mendengar hal itu Nabi Muhammad SAW berkata :

يا عمّ، والله لو وضعوا الشمس في يمينى والقمر في يساري على أن أترك هذا الأمر حتى يظهره الله، أو أهلك فيه ما تركته

Artinya, “Wahai paman, Seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan ini (risalah ini) saya tidak akan meninggalkan penyampaian risalah ini hingga Allah memenangkannya atau saya mati dalam (memperjuangkannya).” (Sirah Ibnu Hisyam)

Sebuah kalimat yang menggambarkan keteguhan, sebuah kalimat yang menyiratkan bahwa risalah ini tidak bisa dibeli dengan apapun, inilah contoh yang rasul berikan kepada generasi umat ini agar teguh dalam perjuangan.

Terlebih, tantangan berislam dewasa ini menuntut orang-orang beriman untuk teguh dalam memegang agamanya. Kondisi ini seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW :

يأتي على الناس زمان القابض على دينه كالقابض على الجمر

Artinya, “Akan kepada manusia suatu zaman di mana orang yang berpegang teguh terhadap agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR Tirmidzi)

Ibrah sabar dan teguh dalam menghadapi seluruh tantangan bisa juga kita ambil dari sosok nabi Yusuf –alaihi salam-, yang tergambar dalam firman Allah SWT :

Allah ta’ala berfirman:

قَالُواْ أَإِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُ قَالَ أَنَاْ يُوسُفُ وَهَذَا أَخِي قَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَيْنَا إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيِصْبِرْ فَإِنَّ اللّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,” (QS. Yusuf: 90)

Nabi Yusuf –alaihi salam– telah diuji dengan serangkaian ujian yang datang bertubi-tubi. Lalu beliau bersabar dan teguh di atas prinsip yang diyakininya tanpa bergeser sedikit pun. Karena itu, Allah pun mendatangkan kemenangan kepadanya dan memberi kekuasaan di muka bumi ini.

Kebangkitan Islam adalah suatu kepastian, namun kebangkitan tersebut erat kaitannya dengan terpenuhinya sebab –sebab kebangkitan pada diri umat. Untuk mewujudkan sebab tersebut, maka dibutuhkan kerjasama dari berbagai elemen umat dan terus menerus di berbagai aspek. Wallahu a’lam bissowab

Penulis: Fakhruddin
Editor: Arju
kiblat.net