Header Ads

Wakil PM Turki: Sykes Picot Tahap Kedua Tengah Dimulai


Wakil PM Turki Numan Kurtulmus mengatakan bahwa saat negara-negara seperti Suriah dan Irak menderita, maka kawasan Timur Tengah ini sedang memasuki tahap kedua “Perjanjian Sykes-Picot”.

“Gambar besarnya jelas. Setelah 100 tahun penandatangan Sykes-Picot oleh pemenang Perang Dunia I. Mereka sukses menciptakan perbatasan baru dan menyusun kembali tata politiknya, kini  merencanakan tahap kedua pakta ini,” katanya.

Pelbagai serangan teror dan perkembangan yang terjadi baik di dalam negeri dan luar negeri, diantaranya serangan berdarah atas klub malam Reina di Istanbul menjadi indikasinya. Kurtulmus menandaskan,” Semua serangan teror merupakan gambar besarnya. Jika anda tidak memahaminya, anda akan sulit merasakannya. Semua serangan teror hanya berhenti sebagai kasus kriminal saja.”

“Turki adalah satu-satunya negara yang tidak akan membiarkan gambar besar tersebut terjadi,” tegasnya.

Dia mengatakan bahwa fase kedua ini dilakukan melalui penciptaan krisis dan instabilitas regional. “Tidak ada bedanya antara insiden di Mosul, Irak atau Aleppo, Suriah.”

“Turki sedang mengupayakan perdamaian di kawasan ini. Turki sedang melakukan langkah terbaiknya untuk mencapai konsensus antara rejim Suriah dengan pihak oposisi,” tambahnya.

Perbaikan hubungan politik Turki dengan Rusia akan terus dilakukan meskipun menghadapi penentangan dan provokasi.

Sykes-Picot merujuk kepada kesepakatan yang ditandangani pada 1916 antara Inggris dan Perancis untuk membagi kawasan Timur Tengah pasca kejatuhan Turki Usmani dalam PD I.

Pembicaraan rahasia antara Diplomat Perancis George Picot dengan Mark Sykes dari Inggris ini kemudian dibongkar pihak Komunis Rusia setelah mereka berkuasa pada 1917.

Dalam pakta rahasia ini, wilayah Timur Tengah yang dikuasai Turki Usmani dibagi antara Inggris dan Perancis, dua pemenang perang. Perancis mendapatkan wilayah Suriah dan Lebanon sementara Palestina jatuh ketangan Inggris.

Irak dibagi dua dengan Baghdad dan Basra diserahkan kepada Inggris, sedang Mosul dikuasai Perancis.
Powered by Blogger.