Skip to main content

Turki adalah bangsa teladan


Oleh : Dr Zaher Sahloul

Sebanyak 3% dari penduduk Turki adalah pengungsi Suriah, total 3 juta pengungsi selama lebih dari 6 tahun dan jumlah ini terus berkembang.

Tidak ada kepanikan atau sentimen anti-pengungsi. Pengungsi Suriah diperlakukan lebih baik daripada negara lain di dunia, dengan sedikit pengecualian.

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan, yang menarik banyak kebencian dan kritik dari orang-orang yang naif dan bermotif politik dari haluan yang berbeda, telah membuka hati untuk para pengungsi. Pengungsi Suriah memiliki akses yang baik untuk pekerjaan, pendidikan dan kesehatan gratis.

Secara umum, pengungsi diperlakukan dengan sangat hormat dan cinta tanpa dicap sebagai teroris, ancaman terhadap keamanan nasional atau datang untuk mencuri pekerjaan. Bandingkan dengan cara mereka diperlakukan di Lebanon, Yunani, beberapa negara Uni Eropa atau bahkan Amerika Serikat!



Erdogan membagikan roti kepada pengungsi Suriah dan istrinya (Emine Erdogan) memeluk anak-anak pengungsi Suriah. Saya tidak ingat bahwa Ibu Negara kita (AS), Michelle Obama, pernah menyebut tentang anak-anak Suriah atau pengungsi Suriah.

Dalam satu dekade terakhir, Turki telah berubah menjadi negara model dan negara modern yang kuat yang bangga pada warisan budaya, sejarah dan kepemimpinannya sembari merangkul modernitas, teknologi dan globalisasi.

Di masa lalu, ketika Turki disebutkan, apa yang terlintas dalam pikiran adalah keterbelakangan, korupsi, arogansi dan Midnight Express!

Saat ini Turki semakin mendekati persepsi sebagai model kecantikan, keanggunan, budaya, keramahan dan transformasi ekonomi Timur Tengah. Turki adalah salah satu negara demokrasi “Muslim” terbesar dimana 99% dari penduduk Turki adalah Muslim Sunni.

Islam dipraktekkan di Turki secara alami, sungguh-sungguh, tidak dibuat-buat, ramah-perempuan, inklusif dan akomodatif. Model pemerintahan Turki telah memungkinkan kebebasan berekspresi untuk masyarakat sipil. Ribuan LSM menciptakan kehidupan masyarakat yang peduli tentang orang lain yang kehilangan haknya, orang lanjut tua, hak asasi manusia, landmark bersejarah, lingkungan dan seni.

Kita mungkin tidak setuju dengan beberapa kecenderungan otokratis Erdogan, tetapi orang yang berpikiran adil dan netral harus memberikan Erdogan dan AKP penghargaan untuk transformasi yang dibawanya.

Turki berada di tengah-tengah zona berbahaya dikelilingi negara-negara jahat dan pemimpin dengan kepentingan berlawanan. Turki ditargetkan oleh PKK, ISIS, Putin, Assad dan Iran dan itulah sebabnya Turki dilanda aksi teroris lebih banyak dari negara lain di dunia.

Sangat tidak bertanggung jawab dan tidak adil bagi sebagian yang tinggal di Barat untuk terus menyerang negara dan para pemimpin Turki, menyalahkan mereka untuk semua jenis permasalahan dan memalsukan tuduhan palsu untuk memperkuat gema di ruang dewan mereka sendiri. Orang-orang yang tinggal di rumah-rumah kaca seharusnya tidak melempar batu pada orang lain.

Kita tidak seharusnya melupakan apa yang terjadi pada Mesir, ketika orang-orang naif berpikir bahwa mendukung kudeta oleh diktator militer gila lebih baik untuk Mesir daripada mendukung seorang presiden terpilih.

Saya berharap dan berdoa bahwa orang-orang Turki yang berhati baik diselamatkan dari kesengsaraan negara-negara lain di kawasan itu. Sebagai orang yang rasional dan mendapat informasi dengan baik, yang percaya pada kemanusiaan, membalas kebaikan dengan kebaikan dan keadilan, saya akan selalu merasa berhutang budi kepada kemurahan hati orang-orang Turki dan para pemimpin mereka.



Dr Zaher Sahloul
adalah seorang dokter warga AS yang berasal dari Homs, Suriah. Aktif dalam banyak kegiatan kemanusiaan untuk warga sipil dan pengungsi Suriah. Pendiri American Relief Coalition for Syria, Penasehat senior di SAMS (Syrian American Medical Society), Mantan direksi Illinois Coalition for Immigrant and Refugee Rights, Mantan Pemimpin Council of Islamic Organizations of Greater Chicago

Dapat diiuti di akun twitter @sahloul

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…