Skip to main content

Setelah Aceh dan Medan, Warga Palembang Daulat Habib Rizieq Jadi Imam Besar Umat Islam Indonesia


Hujan yang mengguyur pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, Sabtu (7/1) malam tidak melunturkan semangat umat muslim untuk mengikuti "Tabligh Akbar Maulid Arbain Spirit 212" bersama Ketua Dewan Pembina Gerakan Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Habib Muhammad Rizieq Syihab dan pimpinan GNPF MUI lainnya.

Meski harus basah dan duduk di pelataran, bahkan ada yang duduk di atas perahu di sungai Musi, puluhan ribu umat Muslim tetap semangat menyaksikan Tabliqh Akbar.

Dalam kesempatan itu, Habib Rizieq mendapat kehormatan. Gabungan ulama, pemimpin Pondok Pesantren (Ponpes) serta organisasi masyarakat (Ormas) Islam di Sumsel, sepakat mendaulatnya sebagai Imam Besar Umat Muslim Indonesia.

Deklarasi dibacakan oleh Ketua Forum Umat Islam (FUI), KH Umar Said itu didasari kebangkitan serta kesadaran umat Islam setelah aksi 212. Deklarasi pun langsung disambut takbir.

Sebelum Habib Rizieq, beberapa ulama nasional terlebih dahulu tampil di depan panggung. Mulai dari Sekjen FUI, KH Muhammad al Khaththath, Wakil Ketua GNPF MUI, KH Zaitun Rasmin serta KH Husni Tamrin. Mereka menggelorakan kembali semangat 212. “Ada beberapa karunia di dapat dari aksi bela Islam,” jelas Zaitun Rasmin.

Karunia dimaksud, bersatunya umat Islam sebagai generasi memperjuangkan surat Al Maidah. Lalu, spirit luar biasa ditunjukan jutaan umat tersebut.

Sedangkan Habib Rizieq, dalam tausiahnya mengingatkan kembali perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah di jalan Allah. Ia mengungkapkan, banyak kalangan yang berusaha menangkap, mengusir serta membunuh Nabi. Sembari duduk diatas panggung karena kondisi kesehatan, ia mengurai jika upaya tersebut dalam bahasa arab disebut makar. Yaitu bentuk tipu muslihat atau memperdaya agar dapat menghentikan dakwah Nabi Muhammad.

Oleh sebab itu, para ulama yang meneruskan ajaran Alquran serta Nabi Muhammad, termasuk umat Islam, agar jangan takut difitnah atau dicaci maki. “Karena itu resiko dalam berdakwah,” tandasnya.

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…