Header Ads

PENDUKUNG BASUPI KAHAYA CURNAMA DAN BANTENGWATI


Dakwah Media - Jika mereka berada dalam pertempuran Aceh versus Belanda di awal abad XX dulu, mereka tak beda dengan serdadu Ambon, Manado, atau Bali (pasukan Marsose Belanda) yang menjadi tenaga kepruk atas prajurit Aceh. Merekalah yang mengejar-ngejar yang mulia Cut Nyak Dien di belantara.

Jika mereka berada dalam pertempuran Pelembang vs Belanda, mereka tak beda dengan juru kepruk Belanda (serdadu pribumi dari Nusantara Timur) untuk menghantam Sultan Badaruddin II.

Jika mereka berada dalam pertempuran Imam Bonjol vs Belanda (1815 - 1837), mereka tak beda dengan tenaga bayaran dari pedalaman Jawa Selatan untuk bergabung dengan kaum Adat untuk membela Belanda melawan Imam Bonjol dan para ulama lainnya.

Jika mereka berada dalam Perang Jawa (Pangeran Diponegoro vs Belanda, 1825 - 1830) , mereka adalah barisan pasukan Patih Danurejo, antek Belanda momor wahid, yang ditampar sang pengeran, yang senantiasa memburu pasukan Diponegoro dan Kyai Modjo demi dapat bayaran. Butuh keyakinan terhadap hari akhir untuk berada dalam barisan Diponegoro. Itu tidak gampang karena harus berkelana bertahun-tahun di antara desa dan rimba. Lagi pula apa enaknya upaya mendirikan tegaknya syariat di tanah Jawa buat orang-orang yang sibuk berpikir dunia.

Jika mereka berada dalam pertempuran Tuntang (Inggris vs Sultan Hamengku Buwono II), di awal abad XIX, maka mereka adalah barisan pasukan Noto Kesumo yang mengkhianati Sang Sultan. Ikut Inggris itu enak. Lebih instan untuk dapat harta, tahta, dan wanita. Tak perlu membuka sawah untuk swa sembada pangan. Cukup kontrakkan lahan bangsawan untuk perkebunan Eropa dan jadikan rakyat sebagai budak mereka. Perkara tanaman tak dibutuhkan penduduk itu bukan urusan mereka. Perkara rakyat lapar itu urusan nomor berapa.

Jika mereka berada dalam Perang Suksesi Jawa, mereka ingin agar Pangeran Sambernyowo dan Pangeran Mangkubumi segera berdamai dengan Belanda. Melawan Belanda itu tidak enak. Bisa jadi tak lagi mengharap dunia. Yang ada adalah siap mati. Untuk itu juga harus punya keyakinan pada indahnya surga. Hanya dengan itulah kesabaran tercipta. Hanya itu yang bisa diberikan para ulama pendukung pangeran berdua.

Jika mereka berada dalam Perang Banten di akhir abad XVII, maka mereka segera ikut Pangeran Haji untuk memihak Belanda dan mengkhianati Sultan Ageng Tirtayasa, Syaikh Yusuf, dan Pengeran Purbaya. Ikut Belanda lebih instan untuk dapat berbagai hal duniawi. Tak butuh idealisme. Daripada sibuk membangun kepemimpinan lokal, mending mencangkokkan pemimpin asing atau aseng. Tinggal impor dari Batavia, deket, di seberang timurnya.

Jika mereka berada dalam Perang Amangkurat II vs Pangeran Trunojoyo (1672 - 1680), mereka bersorak ria ketika Amangkurat II menusuk lambung Trunojoyo tanpa sikap ksatria dan mencincang tubuhnya. Trunojoyo membuat Mataram terlalu berpikir harga diri negara dan agama, tidak prakmatis, sehingga mengganggu opini ekonomi jangka pendek. Lagi pula mengapa harus ikut para ulama di Giri dan Kajoran, para “peramal masa depan yang juga belum melihat ramalannya”.

Jika mereka berada dalam Perang Makassar, maka mereka ikut bergabung dengan pengkhianatan sebagian penguasa Sulawesi dan Maluku untuk melawan Sultan Hasanuddin. Lebih cepat dapat kekuasaan dan kehartaan. Tak perlu lagi bicara siri (harga diri) karena toh tak ada siri terhadap Belanda.

Jika mereka berada dalam pemerintahan Amangkurat I, mereka begitu bergembira ketika Sang Amangkurat membantai ribuan ulama. Para ulama terlalu ribet. Mereka terlalu membela kebijakan sang ayah, Sultan Agung Hanyokrokusumo Maulana Matarami, yang anti Belanda.

Jika mereka hidup pada masa Demak Bintoro di abad XVI, mereka begitu sibuk membela Blambangan dan Pajajaran yang lebih memilih bersekutu dengan Portugis, yang pragmatis, praktis, dan memberikan keuntungan jangka pendek. Mereka akan membela para antek Portugis itu untuk melawan Sultan Trenggono dan para wali di Pasuruan atau Pangeran Fatahillah di Sunda Kelapa.

Jika mereka hidup dalam tahun 1965, merekalah yang bersorak gembira dengan pembantaian PKI atas para ulama dan provokasi PKI untuk membantai tokoh-tokoh Angkatan Darat. Merekalah yang bergembira dan meneriakkan agama adalah candu. Mereka gembira, bisa bebas meneriakkan bahwa hari akhir hanyalah ramalan tak berguna.

Silakan jika ada yang mau meneruskan...

Jika anda pengikut Nenek Bantengwati dan Mr. Basupi, tapi tidak terima dengan tuduhan ini, gampang saja. Keluar saja anda dari barisan mereka. Ikutlah para ulama dan panglima perjuangan Islam. Merekalah pahlawan sesungguhnya negeri ini. Jika anda merasa berjuang dan merasa perjuangan anda telah munuju optimal, maka bersyukurlah dengan sikap anda yang mengundurkan diri ini. Karena optimal hanya layak di bawah kebenaran. Lalu adakah kebenaran jika anda melawan para penyampai Al-Qur'an? Keluar dari pimpinan yang mengajak mengingkari hari akhir itu membahagiakan. Apakah orang yang hanya sibuk berpikir materi dan korupsi serta mengingkari hari akhir akan mungkin ikut ulama melawan penjajah? Apalagi penjajah menjanjikan dunia sementara ulama “hanya” bisa memberi peta jalan menuju surga?

Terhadap saudaraku TNI, betapa mulia sikap anda yang melihat kematian sebagai pengabdian tertinggi. Itulah sikap Islam. Itulah prinsip jihad. Tetapi marilah kita sadari, dulu pengabdian tertinggi ini dalam bimbingan ulama. Pihak yang bisa membimbing pengabdian itu lurus, tak ada penyimpangan sedikitpun, kecuali menuju surga.

Marilah kita bangsa Indonesia semuanya bertobat. Kita telah mengkhianati ulama dan para senopati ulama. Kita menjadikan mereka pahlawan tetapi mengikuti cara hidup para antek dan tuannya, Belanda, pihak yang menghunuskan keris dan bedil kepada para ulama dan senopati ulama.
Jika kita ingin Indonesia ini benar-benar merdeka dan jaya, hargai para pahlawan dengan tak hanya mempahlawankannya, tetapi juga mengikuti perjuangan mereka.

Hanya tegaknya agama dan syariatnya lah yang membuat berbagai penduduk di wilayah Nusantara ini dulu masih ada gerak melawan penjajahan. Tanpa itu apa? Bukankah yang ada hanya para antek Belanda?

Bukankah tanpa Islam kita sudah melihat buktinya? Hutang Indonesia sekarang 3.800 trilyun rupiah masih ditambah penggarongan Freeport, Century, BLBI, gas Tangguh, Indosat dll. Tanpa Islam setiap pemimpin dipaksa jadi panglima perampokan atas negeri sendiri. Semua itu karena kita berpikir dunia. Serta mendiskreditkan surga sebagai ramalan tak berguna !!! [fb]

Oleh: Ust. Husain Matla
Powered by Blogger.