Skip to main content

Pembenci FPI ini taubat setelah tahu apa yang terjadi didepan Mapolda Jabar




Dakwah Media - Front Pembela Islam atau FPI kerap diidentikkan dengan organisasi masyarakat (ormas) yang radikalis dan antitoleran. Belum lagi mendapat label sebagai "preman berjubah". Apakah benar demikian?

Adalah Dimas Ariesetiadi yang 'awalnya' punya pandangan yang tak jauh beda seperti yang orang sangkakan. Akan tetapi, warga Bandung itu mencoba membuktikannya ketika di Mapolda Jawa Barat, kemarin (12/1/2017). Berikut catatannya:

---

Rasa penasaran dan kepo akan FPI Alhamdulilah akhirnya terpenuhi, karena semua ga cukup dengan hanya melihat di media, dan ga cukup hanya katanya dan katanya. Guru terbaik adalah pengalaman.

Hari ini Rasa penasaran memuncak, dan kebetulan Ormas Islam ini sedang berkumpul di Bandung untuk mengawal pemeriksaan Ketua umum FPI Habib Rizieq di Mapolda Jabar. Pukul 09.00 saya seorang diri bermodal nekat dan kamera hp langsung bergegas menuju ke Mapolda Jabar.

Pukul 09.30
Sampai disana saya tertegun, banyak sekali masa nya lautan manusia berbaju putih, dan ga cuman ikhwan, banyak juga akhwat nya, bahkan ada beberapa ikhwan yg juga membawa anaknya. Disini ada 2 kubu yg pertama FPI yg mengawal, kedua GMBI sebagai pelapor. Tp yg saya bahas disini adalah FPI.

Disana saya disuguhi oleh beragam hal yg membuat saya seperti di tempeleng karena cuman liat mereka di media, dan mendengar katanya-katanya. katanya mereka itu preman dan apalah yg orang-orang bilang, tau apa yg saya dapat? saya mendapatkan ratusan senyuman manis dari wajah berjanggut mereka, orang yg ga saya kenal, Subhanallah. Dan dari wawancara singkat saya, mereka itu Ormas yg punya SOP dan menjalankan SOP nya, mereka menyediakan tempat dan tim medis, lalu konsumsi untuk para anggota nya, bahkan ada anggota yg khusus untuk membersihkan sampah-sampah yg berserakan.

Lalu sang orator FPI seperti sengaja hanya menggunakan pengeras suara yg ga begitu keras, padahal ada juga pengeras suara lainnya yg saya yakin suaranya bakal sama kaya yg di pake kubu GMBI. Bisa saya simpulkan itu untuk tidak memprovokasi dan agar hanya anggota FPI saja yg mendengar.

Provokasi? FPI radikal? orator berkali-kali mengatakan, "GMBI itu saudara kita, hanya ada kekuatan politik dibelakangnya yang menggerakan mereka". Apa ada kata-kata provokasi dari sang orator? GA ADA, benar-benar tidak ada. Yang ada orator terus melantunkan pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, dan dukungan untuk para habib dan ulama yg secara ngga sengaja membuat saya seperti di tempeleng, lalu ikut melantukan nya. Lalu orator pun menyampaikan bilamana NKRI itu harga mati seraya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Merindiinggg...liat dan dengarnya.

Sempat ada beberapa kali Provokasi dari masa GMBI yg ada di seberangnya tp pihak FPI dan Polisi juga saling membahu untuk menenangkan. Dan pertama kali nya saya melihat kawat berduri yg besar ituloh secara langsung. Oh iya, disana itu ada 2 kubu, tp media-media seperti CNN dan KOMPAS memasang kamera hanya ke arah Kubu FPI dan mereka diam saja tidak melakukan liputan atau perekaman gambar, pikiran saya saat itu, mungkin mereka menunggu moment tepat yg bisa jadi berita. Wallahu'alam bissawab.

Pukul 11.49 
Pihak GMBI masih melakukan orasi-orasi yg memanaskan panasnya siang ini di Bandung, dan Pihak FPI, Mereka membubarkan diri, iya membubarkan diri dan bersiap mengambil wudhu untuk bersujud di waktu dzuhur kepada sang Maha Pencipta, Allah SWT.

Mereka Berwudhu menggunakan air seadanya, bener-bener seadanya 1 botol berdua, dan ada yg tayamum, ditampar lagi dan lagi saya hari ini, mungkin mereka lebih taat dan mengerti agama di banding saya, dan saya hanya bisa menjustifikasi mereka dari apa yg di beritakan media. Astaghfirullah hal adzim.

Pukul 12.01 
Adzan Dzuhur berkumandang, Muadzin Adzan menggunakan pengeras suara yg lebih keras saat itu, masa dari GMBI di seberangpun hanya terdiam, tidak melakukan hal yg serupa. semua anggota FPI langsung membentuk shaf di terik dan panasnya matahari di tengah Jl. Soekarno Hatta kota Bandung. Ini pertama kali nya saya melihat ada Umat yg begitu banyak Sholat di tengah jalan di depan Mapolda ini pemandangan yang epic dan menggetarkan hati membuat saya berkaca-kaca.

Setelah mereka sholat berjamaah, mereka kembali ke barisan dan menyantap makan siang yg telah disiapkan. Sembari mereka menyantap saya sempat beberapa kali ikut di tawari makanan dan minuman. Tapi waktu semakin siang, saya memiliki kesibukan lainnya, dan sebelum pulang saya mendapat foto epic seorang anggota FPI dari belakang, ia mengenakan baju seragam FPI berwarna putih bertuliskan " KATAKANLAH YANG HAK ITU HAK, DAN YANG BATIL ITU BATIL, WALAUPUN HARUS DI PENJARA ATAUPUN DIBUNUH SEKALIPUN " Tapi bukan itu yg membuat saya tertegun dan mengatakan itu foto yg sangat epic, tapi apa yang ada di tangannya, sebuah tasbih dan dengan bergantian di gerakan oleh ibu jarinya, SUBHANALLAH, diterik panas di keadaan yang tidak kondusif seperti ini beliau masih dan masih bertasbih menyebut asma mu ya Allah. Hati saya teriris, merintihkan air mata seraya meninggalkan mereka semua disana karena hari semakin panas.

Apa yang saya dapat hari ini, merupakan pengalaman yang sangat indah dan pembelajaran yg sangat berharga, Alhamdulilah. Satu yang saya simpulkan, Jangan pernah menjustifikasi seseorang atau suatu kelompok dengan yg buruk, karena belum tentu kita lebih baik dari mereka. akhir kata saya ingin mengatakan bilamana FPI itu ternyata, SUBHANALLAH, KEREN PISAANN EUY!!! Dilain waktu ingin rasanya ikut kembali melihat atau ikut aktifitas mereka, atau bahkan bisa bertemu langsung dengan Ketua umum FPI, tadi saya terburu-buru jadi tidak sempat melihat beliau hehehe.



Semua tulisan saya ini pengalaman nyata saya siang tadi di depan Mapolda Jabar dari Pukul 09.30 - 13.30, Mohon maaf bila acak-acakan saya baru pertama kali juga menulis sepanjang ini. Terimakasih, semoga bermanfaat. [Paramuda/Dakwahmedia]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…