Skip to main content

Parah!!!. Kata PPP Djan Faridz: Ahok Sudah Banyak Berbuat Baik Pada Umat Islam


www.wartaktual.info
 - Sudah sepantasnya Calon Gubernur petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dibebaskan dari semua dakwaan dugaan kasus penistaan agama. Hal ini merujuk pada keterangan saksi-saksi pada persidangan Ahok yang terlalu dipaksakan.

Demikian disampaikan Ketua Bidang Hukum dan HAM DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pimpinan Djan Faridz, Triana Dewi Seroja dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (13/1).

"Saya melihat saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum di persidangan kemarin itu bukan saksi fakta dan tidak kredibel. Saksi fakta itu kan sesuai dengan pasal 1 butir 27 KUHAP adalah saksi yang melihat, mendengar dan mengalami sendiri suatu peristiwa atau kejadian. Karena bukan saksi fakta maka tidak heran juga keterangannya banyak yang tidak sesuai (berbeda) dengan di BAP," jelas Triana.

Dia menambahkan, seperti saksi Irena Handono, saksi Muhammad Burhanuddin, dan Saksi Wilyudin Abdul Rasyid Dhani yang lebih parah karena pada laporannya di Polresta Bogor tempat dan waktu kejadian ajaib bisa salah. Di laporan dikatakan saksi Wilyudin melihat Video pidato Ahok tanggal 6 September 2016 sementara faktanya Ahok pidato tgl 27 September, kemudian tempat kejadian perkara di Tegalega, Bogor, padahal faktanya di Kepulauan Seribu. 

"Nah dari sini saja bisa kita lihat apakah saksi kredibel atau tidak? Sampai-sampai Majelis Hakim menunda keterangan saksi dan meminta polisi yang membuat laporan untuk dihadirkan di persidangan untuk mencari kebenaran materiilnya," ujar Triana.

Dan dalam persidangan saksi bukannya memberikan keterangan sesuai fakta-fakta malah cenderung memfitnah, khususnya saksi Irena keterangan yang dia sampaikan di persidangan banyak yang tidak sesuai dengan fakta yang ada, padahal saksi itu memberikan keterangan di bawah sumpah. 

"Melihat kondisi seperti ini sangat wajar bila Pak Ahok protes dan keberatan. Contohnya dalam persidangan Irena mengatakan Pak Ahok membongkar masjid dan tidak pernah membangunnya kembali hingga saat ini, faktanya justru jika mau membangun baru itukan harus merubuhkan bangunan yang lama," ujar Triana.

Soal belum dibangun hingga saat ini adalah hanya terkait tender yang belum selesai. "Harusnya Irena bertabayyun dulu, cek informasinya dengan benar kenapa itu masjid belum dibangun apa kendalanya sehingga tidak bersuudzon dan menimbulkan fitnah," lanjut Triana.

"Kalau saksi-saksi seperti ini diteruskan sangat berbahaya, bukan saja tidak layak untuk didengarkan keterangannya dipersidangan, tapi bisa menjadi ajang fitnah, untuk itu saksi-saksi yang tidak kredibel sebaiknya dikesampingkan keterangannya," tegas dia menambahkan.
Triana berharap majelis hakim mengesampingkan semua keterangan dari saksi tersebut sebagai alat bukti dan dakwaan menjadi cacat. Kendati kesaksiannya diragukan, Triana mengatakan kasus Ahok ini tidak bisa diberhentikan. Namun yang pasti, tidak berbobotnya keterangan saksi melemahkan dakwaan Jaksa saat ditanya, "Apakah kesaksian palsu ini tidak akan mendowngrade wibawa pengadilan?" ujarnya.

Triana menjelaskan pengadilan itu untuk mencari kebenaran materiil yaitu untuk mendapatkan keadilan bagi terdakwa. Jadi bila diketahui ada saksi palsu maka terdakwa tidak bisa dinyatakan bersalah. Bahkan dalam Pasal 242 KUHP khususnya ayat (2) menyebutkan, jika keterangan palsu di atas sumpah diberikan dalam perkara pidana dan merugikan terdakwa atau tersangka yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Terhadap saksi yang memberikan keterangan palsu di bawah sumpah dipersidangan, Triana meminta kepada Majelis Hakim supaya menetapkan saksi tersebut telah memberikan keterangan palsu. Selanjutnya Majelis akan mempertimbangkan dengan melakukan musyawarah terlebih dahulu. Apabila pertimbangan tersebut diterima maka Majelis hakim mengingatkan bahwa persidangan ini akan ditunda terlebih dahulu untuk selanjutnya memerintahkan JPU melakukan upaya hukum terhadap saksi diproses atas keterangan saksi palsu. Bila ada tuduhan dan fitnah yang disampaikan oleh saksi tersebut pada persidangan, maka bisa ditindak lanjuti dengan melaporkan saksi ke pihak kepolisian.

"Kasihan Pak Ahok difitnah. Semoga Pak Ahok bisa bebas, kami selalu mendoakan dan mensupport Pak Ahok. Pak Ahok sudah banyak melakukan kebaikan untuk Umat Islam. Kami tahu betul apa saja yang telah dilakukan oleh Pak Ahok untuk Umat Islam, untuk itulah kenapa PPP mendukung Pak Ahok dan Pak Djarot. Semoga Allah membukan mata hati para saksi-saksi untuk memberikan keterangannya secara jujur. Allah Maha Mengetahui niat setiap orang dan apa yang kita kerjakan," tutup Triana. (rmol)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…