Skip to main content

Jamaah Shalat Shubuh Spirit 212 di Masjid Al Azhar "Membludak". Sejumlah Tokoh Politik Papan atas pun turut serta



wartaktual.info -- Gerakan Nasional Pengawal Fatwa GNPF MUI bersama jamaah Masjid Agung Al- Azhar melakukan shalat Shubuh berjamaah Ahad (15/1). Untuk menjaga spirit 212, GNPF-MUI juga mengadakan diskusi politik Islam bekerjasama dengan PPI (Pengajian Politik Islam) Masjid Agung Al-Azhar, Ahad (15/1).

Baca Juga: Ini Dia Lirik Lagu "IMAN" Ciptaan Ahmad Dhani membuat bergelora

Beberapa yang dikabarkan akan hadir dalam shalat Shubuh berjamaah yang dilanjutkan dengan diskusi politik Islam ini, diantaranya Koordinator GNPF-MUI, Ustaz Bachtiar Nasir, mantan Ketua MK yang juga Ketua Umum Serikat Islam, Hamdan Zoelva, mantan Ketua MPR, Amien Rais, Ketua Pembina Partai Gerindra, Prbowo Subianto, dua calon gubernur DKI, Agus Harimurti Yudhoyono dan Anie Baswedan dan Wakil Sekjen MUI, KH. Tengku Zulkarnain.

Tingginya animo umat Islam yang ikut dalam shalat Shubuh berjamaah dilanjutkan diskusi politik Islam ini, membuat Masjid Agung Al Azhar tidak mampu menampung jamaah yang hadir sejak pukul 02.00 WIB dini hari.
"Di dalam sudah penuh mas," kata salah seorang jamaah yang menggelar sajadah di dekat tempat wudhu masjid.

Baca Juga: Pasca Sebarkan Berita Hoax, Halaman Facebook Polda Jabar Tiba-Tiba Hilang

Acara diskusi adalah Tabligh Akbar Politik Islam 7, dengan mengambil tema 'berbeda dalam madzhab, bersatu dalam politik'. Dari pantauan Republika, beberapa tokoh yang dijadwalkan ikut dalam diskusi politik Islam telah hadir diantaranya Ustaz Bchtiar Nasir dan Hamdan Zoelva.

Hingga jelang masuknya jadwal shalat Shubuh jamaah masih berdatangan ke Masjid Agung Al-Azhar untuk ikut shalat berjamaah sekaligus diskusi politik Islam ini. [Ibnu/ rol]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…