Skip to main content

Heboh... Ribuan Orang Tanda Tangani Petisi Bubarkan PDIP, Netizen: Tidak Pro Rakyat Dan Memelihara Komunis


Dakwah Media - Perayaan ulang tahun ke-44 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) hari ini berlangsung meriah di Assembly Hall JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (10/1/2017). Namun ditengah perayaan ulang tahun partai berlambang banteng bermoncong putih itu, sebuah petisi daring bertajuk “Bubarkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan”, justru beredar luas di dunia maya.

Sekira Sembilan belas jam yang lalu, petisi bubarkan PDIP itu dibuat dan ditujukan kepada Mahkamah Konstitusi (MK). Petisi itu pertama kali dibuat oleh seseorang mengatasnamakan Abyan Karami, telah ditandatangani oleh lebih dari 4800 orang.

Abyan menjelaskan, pembubaran PDIP menjadi layak dilakukan karena dianggap telah melanggar ketentuan UUD 1945 dan Pancasila. “Bubarkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) karena sudah melanggar UUD 45. partai politik secara langsung ikut melanggar konstitusi dan Pancasila jika tetap mengusung dan membela penista agama. konsekuensi tegas bagi partai pendukung yang telah melanggar ketentuan UUD 1945 dan Pancasila, layak dibubarkan”, ujarnya.

Beberapa netizen pada linimasa twitter memang sudah lama terlihat menggadang-gadang adanya petisi untuk bubarkan partai PDIP. Netizen dengan akun @susahingatnya, misalnya menulis status pada 2014 soal bubarkan PDIP karena tidak dianggap mendidik.

 Demikian pada periode 2015 hingga kini.


Pantauan redaksi eveline, mendapati netizen berkomentar terkait petisi daring bubarkan PDIP warnai ultah PDIP ke-44 pada linimasa twitter. “Mega suaranya cb redakan ketakutan jkw,tp ril nya ummat mayoritas sdh tdk mau ditipu lagi ma si emak.petisi bubarkan pdip sdh mengudara”. Kicau akun @Monyongpreside1, sebut petisi itu sudah menyebar.

Selanjutnya, seorang netizen dengan akun @TaurusAdalahAku, terlihat bersemangat untuk menandatangani petisi tersebut. “hayuuukk tanda tangan petisinya… *OmManaPetisinyaOm”. Sedang seorang netizen lain, terlihat membagikan petisi tersebut. 


 sumber:  eveline.co.id

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…