Skip to main content

Cerita Korban Penipuan Kumpulkan Uang Demi 'Jalur Belakang' CPNS


Dakwah Media - Dani Sukmana (24) dan Iwan (28) geleng-geleng kepala. Meski berusaha tenang, kedua guru honorer tersebut tak mampu membendung kekecewaan bercampur kesal. Mereka berharap uang ratusan juta miliknya yang begitu susah payah dikumpulkan dapat kembali utuh.

Kedua guru honorer tersebut menyetorkan duit kepada pria inisial I, seorang koordinator perekrutan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 'jalur belakang'. Kepada keduanya, I mengaku sebagai anggota salah satu Ormas. "Dia (I) bisa bantu 'jalur belakang' untuk pengangkatan PNS," kata Dani saat berbincang bersama detikcom di Bandung, Sabtu (14/1/2017).

Warga Limbangan, Kabupaten Garut, Jabar, ini mengenal I dari saudaranya pada 2014 lalu. Waktu itu, Dani ingin sekali statusnya meningkat jadi PNS. "Saya ini guru olah raga di salah satu sekolahan di Jakarta. Sudah delapan tahun ini berstatus honorer. Ya saya tergiur tawaran dari I yang menjanjikan langsung masuk tanpa proses seleksi," ujarnya.

Dani tidak curiga gerak gerik I. Sebab, Dani mendengar cerita bahwa I banyak membantu orang lolos diangkat menjadi PNS. Namun belakangan, kisah tersebut hanya bualan belaka alias fiktif. Sebelum kasus penipuan ini terungkap, Dani mendatangi rumah I di Leuwigajah, Kota Cimahi, Jabar, pada 2015 lalu. Dani sempat menyerahkan uang sebesar Rp 100 juta sesuai permintaan I.

"Uang sebanyaknya itu hasil tabungan sejak 2004. Saya bayar kontan kepada I. Tak lama kemudian, saya dan beberapa orang dikumpulkan di Lembang (Kabupaten Bandung Barat) untuk tes urine. Lalu. saya dijanjikan bertugas di Dinas Perekonomian Jabar," tutur Dani.

Guna meyakinkan korbannya, I secara bertahap, pada 2015-2016, memberikan sejumlah dokumen yang di antaranya surat pengangkatan PNS. Dani awalnya sangat gembira menerima surat tersebut. 

Singkat cerita, pada Rabu 12 Januari 2017, Dani bersama ratusan pekerja honorer lainnya dari seluruh Jabar berkumpul di Gedung Sate, Kota Bandung, setelah masing-masing koordinator meminta mereka untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan pengangkatan CPNS. Di lokasi itulah kedok penipuan terbongkar.

"Pihak BKD Jabar bilang enggak ada diklat. Selain itu, surat pengangkatan PNS yang kami bawa ternyata palsu," kata Dani.

Perjuangannya bertahun-tahun mengumpulkan uang demi masa depan telah sirna. Dani berharap pria inisial I mengembalikan uangnya. "Saya mau pakai bisnis saja uangnya kalau dikembalikan. Ya berharap polisi memproses hukum koordinator tersebut," ujar Dani.

Serupa dialami Iwan (28). Dia juga menggelontorkan duti kepada I. Tak tanggung-tanggung, guru honorer di salah satu SMK di Kota Bandung ini menggelontorkan duit Rp 150 juta.

"Saya bayar tunai kepada I di rumahnya, daerah Leuwigajah. Uangnya merupakan hasil penjualan tanah garapan. Sudah susah payah saya untuk mendapatkan uang tersebut. Ya enggak menyangka ternyata niat I membantu 'jalur belakang' itu menipu," ucap Iwan, warga Kabupaten Tasikmalaya, Jabar.

Iwan semula dijanjikan I bertugas di Dinas Pendidikan Jabar. Dia juga dibekali surat pengangkatan PNS yang ternyata abal-abal.

Dia mengenal I di Tasikmalaya pada 2015. "Waktu saya pulang kampung (ke Tasikmalaya) melihat ada sejumlah orang pakai seragam PNS. Nah, katanya orang-orang itu lolos 'jalur belakang' berkat I. Paman saya yang memperkenalkan dengan I," tutur Iwan.

Iwan percaya saja kepada I lantaran menjamin apabila gagal 'jalur belakang' uangnya kembali. "Dia (I) bilang seribu persen lulus. Kalau enggak, uangnya nggak akan 'dicubit' sedikit pun. Bahkan, dia meyakinkan sudah berkoordinasi dengan Gubernur Jabar. Ya nyatanya bohong," ucap Iwan.

Bukan hanya Dani dan Iwan, salah salah korban penipuan modus perekrutan CPNS melaporkan kasus sama ke Polresta Cimahi. Respons cepat Polresta Cimahi membuahkan hasil dengan menangkap seorang oknum PNS, Lalan Suherlan, yang diduga terlibat aksi penipuan CPNS.

Kapolres Cimahi AKBP Ade Ary Syam Indradi menyebutkan para korban berasal dari Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Tasikmalaya. Polisi tengah membidik koordinator lainnya yang disinyalir satu sindikat.

"Sepengetahuan tersangka (Lalan) koordinator yang bertugas merekrut CPNS ini berjumlah 30 tiga puluh orang. Semuanya melaporkan dan menyetorkan kepada saudara Boni," ujar Ade.

Guna mendalami kasus tersebut, polisi sudah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, melakukan penangkapan dan pemeriksaan kepada tersangka, melakukan penyitaan. "Kami akan melakukan penangkapan terhadap lainnya," ucap," kata Ade.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan sebelumnya telah meminta penipuan modus penerimaan CPNS di lingkungan Pemprov Jabar diusut tuntas. Pihaknya juga berencana melaporkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian. [detik]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…