Skip to main content

Ahok Hina Profesi Dosen, Ini Tanggapan Dosen Senior Undip, Dr. Muhammad Nur


Dakwah Media - Menjadi “seseorang” dalam profesi yang kita geluti saat ini adalah buah dari suatu keterpanggilan. Apapun itu profesi kita. Pada awalnya, mungkin itu keterpaksaan, namun dengan berlangsungnya waktu dengan sadar atau terpaksa kita harus menghayati profesi tersebut. Begitulah profesi dosen.

Dosen adalah seorang pendidik profesional dan ilmuwan. Dua label tersebut tidaklah mudah. Tak boleh kita merendahkan profesi mulia ini. Pendidik profesional sesungguhnya dengan segala daya upaya, dengan segala strategi dan pendekatan, menghasilkan warga negara terbaik suatu bangsa menjadi pribadi utuh dengan empat (4) kecerdasan. Kecerdasan Spritual (SQ), Kecedasan Emosional (EQ), Kecerdasan Intelectual (IQ) dan keserdasan Fisik (PQ). Itulah inti buku yang ditulis oleh Stephen Covey, The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness. Menurut, Covey seorang pribadi utuh bertumpu pada kecerdasan spritual (SQ), tiga kecerdasan yang lain EQ, IQ, dan PQ dikontrol oleh SQ. 

Tugas mulia seorang dosen coba bersama-sama dengan mahasiswanya, mendekati pribadi utuh tersebut. Susah memang, itulah tugas pendidik profesional. Profesi dosen dan juga guru dilindungi oleh undang undang (Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen). Undang-undang tersebut untuk mengisi secara utuh UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 

Lengkap sudah. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU no 20 Tahun 2003).

Tugas dosen sebagai pendidik profesional tersebut tidak hanya memberikan Kecerdasan Intelektual (IQ). Sistem Pendidikan Nasional juga melihat manusia Indonesia menjadi manusia dengan pribadi utuh. Manusia Indonesia yang pada saatnya memiliki keterpanggilan baru, keterpanggilan “suara hatinya”, berkarakter, melihat modal besar bangsanya, dan dijadikan sesuatu untuk kesejahtraan bangsanya dan umat manusia. Perjalanan panjang itu kadang memang membongkar berbagai teori, meraciknya menjadi “best practices”, memberikan didikan pada mahasiswanya dengan keyakinan penuh. Jangan katakan mereka hanya berteori. Gerak tubuh dan senyum sang dosen itu kadang sudah menjadikan “best practices”, yang kadang tak dapat terlupakan.

Berbeda dengan guru, dosen diminta melakukan penelitian-penelitian untuk mengembangkan ilmu yang digelutinya. Menghasil kan teori-teori baru, thesa baru, teknologi baru. Pendidikan Tinggi di Indonesia juga dilengkapi dengan pengabdian kepada masyarakat (bagian dari implemntasi hasil penelitian/dosen sebagai ilmuwan). Lengkap sudah. Tridharma dengan cara pandang yang utuh ini akan menghantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat. Nah sungguh dat sedap jika dosen dicibirkan dengan ungkapan hanya bisa ber”teori”.

Sangatlah menyakitkan jika urusan pendidikan direduksi menjadi urusan OTAK, PERUT dan DOMPET. Tidak, tidak dan katakan tidak. Yakinlah pendidikan di Indonesia menghasilkan Pribadi Utuh. [fb]

Oleh : Dr. Muhammad Nur, DEA

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…