Header Ads

9 Bulan Dibui Tanpa Dosa, Tajudin Si Penjual Cobek Menangis: Allah Menghendaki Saya Pulang


Dakwah Media - Tajudin akhirnya dibebaskan setelah 9 bulan ditahan tanpa dosa. Pria penjual cobek ini melangkah pasti meninggalkan Rutan Kelas I Tangerang.

Tajudin keluar dari pintu Rutan pada Sabtu (14/1/2017) pukul 13.28 WIB. Pria berusia 42 tahun itu terbalut kaus warna coklat dan celana panjang warna hitam lengkap dengan peci warna hitam dan sandal jepit. Tidak ada barang-barang yang dibawa Tajudin saat keluar dari tahanan.

Tajudin meninggalkan rutan didampingi lima orang kuasa hukumnya dari LBH Keadilan. Tajudin kemudian menyalami para pengacaranya tersebut.
Tajudin dan kuasa hukumnya kompak mengepalkan tangan. Tajudin dan kuasa hukumnya kompak mengepalkan tangan. "Bebas," teriak mereka. 


Di depan pintu rutan, Tajudin dan kuasa hukumnya sempat berfoto bersama sambil mengepalkan tangan. "Bebas," ucap mereka bergantian.

Penjual cobek miskin Tajudin harus menghuni penjara selama 9 bulan. Kebebasannya dirampas setelah dituduh mengeksploitasi anaknya, yaitu Cepi (14) dan Dendi, yang ikut membantunya menjual cobek di sekitar Jalan Raya Perum Graha Bintaro, Kota Tangerang Selatan.

Akhirnya PN Tangerang memvonis bebas Tajudin karena dirinya tidak terbukti mengeksploitasi anak seperti tuduhan jaksa. Dengan pertimbangan sosiologis, di mana anak-anak membantu orang tuanya.

"Melepaskan terdakwa dari dakwaan. Secara sosiologis, anak-anak sudah biasa membantu orang tuanya," ucap majelis hakim dengan suara bulat, Kamis (12/1).

Sayang, Tajudin belum juga bisa dikeluarkan dari selnya hingga Jumat, 13 Januari kemarin. Sebab, petikan putusan PN Tangerang belum selesai dibuat oleh hakim. 

Tajudin tidak kuasa membendung air mata setelah menghirup udara bebas dari Rutan Kelas I Tangerang. Pria penjual cobek ini tidak henti-hentinya bersyukur.


"Alhamdulillah, saya bebas. Alhamdulillah, mungkin Allah menghendaki saya untuk pulang. Saya orang baik-baik, belum pernah kena masalah polisi," kata Tajudin dengan mata berlinang di depan Rutan Kelas I Tangerang, Sabtu (14/1/2017).

Pria asal Padalarang, Bandung, itu lalu mengungkapkan rencananya untuk pulang kampung. Dia ingin melepas rindu dengan istri dan tiga buah hatinya. Tajudin juga mengaku masih dihinggapi rasa trauma.

"Pulang kampung dulu. Soalnya, sudah ketakutan banget. Saya katanya penjualan orang, mempekerjakan orang. Cuma saya merasa tidak mempekerjakan, saya suruh sekolah tidak mau. Orang tuanya yang menitipkan, mereka keponakan saya," ujar Tajudin.

Air mata Tajudin terus berlinang terlebih saat menceritakan kondisi keluarganya. Selama 9 bulan mendekam dibui tanpa dosa, Tajudin tidak pernah sekali pun berkomunikasi dengan istri dan anak-anaknya. "Nggak ada yang nengokin. Di sini kan tidak boleh bawa handphone. Kirim-kirim surat juga nggak," kata pria berusia 42 tahun itu.

Dia menceritakan istrinya tengah hamil anak ketiga dengan usia kandungan 4 bulan saat dirinya ditangkap aparat dari Polres Tangerang Selatan. "Apalagi istri saya habis melahirkan, buat makan sendiri saja susah, apalagi buat jenguk saya. Dari Bandung ke sini kan jauh. Nafkah mungkin dia nyari sendiri," ungkap Tajudin dengan terbata-bata.

Tajudin juga tak tahu nasib pendidikan anaknya saat ini. Seorang anaknya tengah duduk di bangku SMA dan seorang lagi di bangku SMP.

"Anak saya mungkin dipaksain tetap sekolah. Kalau berhenti atau nggak, saya nggak tahu. Kabar istri juga nggak tahu. Dari badan saya sampai kurus kering ini mereka nggak tahu," ujar Tajudin lirih.[dc]
Powered by Blogger.