Skip to main content

Wuih Takut! Anak Buah Bahrun Naim Yang Ketangkap Diduga Ahli Merakit Bom

ilustrasi



Sejak Sabtu (10/12) hingga Senin (12/12), jajaran Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri sudah mengamankan tujuh terduga teroris di berbagai lokasi.

Mereka diduga kuat merupakan jaringan teroris asal Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Suriah, Bahrun Naim.

Dari sejumlah bukti yang ditemukan polisi, diduga kuat para pelaku ini sudah siap melancarkan aksinya mengebom sejumlah objek vital nasional di Jakarta.

Salah satunya yang menjadi incaran mereka adalah Istana Negara, Jakarta Pusat.

"Perlu kami sampaikam ketujuh orang ini masih dalam proses pengembangan dan pemeriksaan intensif untuk mengetahui siapa saja yang terkait," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Martinus Sitompul, Senin (12/12) di Mabes Polri.

Ketujuh pelaku itu yakni NS dan AS yang ditangkap di bawah jalan layang Kalimalang, Bekasi.

Selain itu, DYN yang diringkus bersama bom berdaya ledak tinggi di kontrakan kawasan Bintara, Bekasi, Jawa Barat.

Kemudian S, yang diringkus di Karanganyar, Jawa Tengah. Mereka semua ditangkap, Sabtu (10/12).

Kemudian, Minggu (11/12) Densus 88 menangkap tiga orang yakni KF di Ngawi, Jawa Timur,  APM di Solo dan WP di Klaten, Jawa Tengah.

"Mereka ini terafiliasi dengan Bahrun Naim," kata mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya itu.

Martinus mengatakan, para pelaku yang ditangkap ini memiliki kemampuan membuat bom.

"Dari beberapa bukti yang diperoleh mengindikasikan mereka misalnya NS punya kemampuan merakit bom," katanya.

Martinus menambahkan, penangkapan para pelaku ini merupakan bagian dari upaya pencegahan yang dilakukan Densus 88 terhadap aksi terorisme.

Namun, dia menegaskan, pencegahan ini juga memerlukan dukungan masyarakat.

Apresiasi yang disampaikan publik turut meningkatkan moril anggota Densus dalam mencegah timbulnya ledakan yang sudah direncanakan para teroris.

sumber: jpnn

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…