Skip to main content

Waspada, Obat Kuat Ilegal Mulai Menguasai Palembang


Sebanyak 9.305 jamu ilegal disita penyidik Polda Sumsel dari sebuah rumah sewa di Jalan Ki Marogan, Kertapati, Palembang. Usut punya usut, ribuan jamu ilegal tersebut berjenis obat kuat untuk pria dewasa.

Dapatkan diskon Rp 300,000 untuk tiket libur Natal & Tahun baru-muRibuan obat kuat tersebut sudah siap disebar di wilayah Palembang dan sekitarnya. Obat kuat tersebut tersedia dalam 52 jenis. Tiap kotak berisi 20-30 sachet dan ada juga berbentuk rentengan yang berisi ratusan kemasan.

Demikian diungkapkan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Sumsel, Kombes Pol Irawan David Syah.

"Dari rumah tersebut kita amankan juga 4 tersangka di mana 3 orang lainnya berasal dari Jawa Tengah," ungkap Irawan.

Empat tersangka, yakni Ujang Mashudi (40), Teguh Wibowo (26), Suyono (44) asal Jawa Tengah dan seorang warga Palembang atas nama Wahyu (20). Dari keterangan tersangka, barang tersebut didapatkan dari rumah produksi di daerah Jawa Tengah.

"Kita masih koordinasikan dengan polres setempat untuk membongkar produsennya. Karena obat ini buatan lokal Indonesia yang ada di kisaran Pantai Selatan, Jawa Tengah," ujarnya.

Rupanya aksi para tersangka bukan kali pertama. Mereka menyasar tukang jamu kaki lima.

"Para tersangka mengaku sudah empat sampai lima kali mengedarkannya di Sumsel. Rata-rata dijual ke tukang jamu kaki lima atau kalangan menengah ke bawah," tukasnya.

Dari hasil uji laboratorium, sambung Irawan, seluruh barang bukti mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan. Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 197 Undang-undang Kesehatan Nomor 36/2009 dengan ancaman lima belas tahun penjara.

Dari pantauan merdeka.com, sejumlah merek jamu tersebut di antaranya, Dragon Ven, Gali Black Gali, Kuda Liar, Gemuk Sehat Pas, Godam Salam, Kapsagi, Buah Merah, Tokek Gatal, dan Mahkota Dewa. Mayoritas jamu tersebut berfungsi sebagai obat kuat pria.

Sumber: merdeka

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…