Skip to main content

Wasekjen MUI: Kok Kita Dilarang dan Diancam Karena Sebut kata China?


Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tengku Zulkarnain menegaskan tak terima dengan istilah ‘rasis’ saat menyebutkan kata ‘China”. Karena 99 persen yang memerdekakan Indonesia adalah kaum pribumi.

“Ini negara Indonesia, masak dilarang kita sebut China. Kita disuruh sebut Tiongkok saja. Dari jaman dahulu pun semua-semua pakai kata China. Negara mereka pun dengan nama Negara Rakyat China, Ini Republik Indonesia, kok kita diancam-ancam menyebut kata China,” tanya Tengku Zulkarnain saat Acara Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al-Mundziri, Sunggal Kanan, Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara, Senin (12/12).

Menurutnya hanya satu persen kontribusi masyarakat China dalam kemerdekaan Indonesia. Sekarang situasinya, seperti warga China yang hendak menguasai Indonesia.

“Saat kita bilang China, ada yang bilang, ‘Kau Rasis’. Macam nenek moyang mereka yang punya negeri ini. Di Medan ada 12 masjid yang dihancurkan oleh China pengembang. Ada apa dengan China,” ucap T Zulkarnain.

T Zulkarnain juga memastikan tak anti dengan China, sebab dia terlahir dari keluarga China pula. Dia menyebutkan ibunya seorang China, dan saudaranya yang lain.

“Makanya mataku sipit. Orang nenekku juga China, mana mungkin saya benci sama China. Di Medanlah yang paling parah mafia Chinanya. Ini negeri kita, kalau rusuh kita yang rasa. Seperti kasus Ahok untuk apa kita bunuh dia, kalau kita mau ketika 212 kemarin. Jumlah kita 7,5juta loh. Kita kencing saja, rumahnya tenggelam,” kata T Zulkarnain. [kini]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…