Skip to main content

Warga Tionghoa Glodok: Gara-gara Ahok, Kemarin Toko Banyak yang Sampe Tutup


www.postmetro.co - Sidang perdana kasus dugaan penistaan agama dengan tersangka Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di gedung milik PN Jakarta Utara, di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Selasa (13/12/2016) mempengaruhi aktifitas di kawasan bisnis Glodok yang masih dalam satu kawasan dengan lokasi sidang. Tempat lokasi sidang yang terletak di Jalan Gajah Mada no.17 hanya berjarak 3 kilometer ke arah selatan dari Glodok. Sejumlah aparat keamanan ditempatkan di salah satu pusat ekonomi Jakarta ini. 

Pantauan tirto.id, sejak pukul 06.00 wib, pada beberapa titik terlihat personil kepolisian melakukan apel penjagaan. Kurang lebih 100 personil polisi memang sengaja disebar kebeberapa titik, antara lain wilayah Ketapang, Glodok, dan Asemka, Jakarta Pusat.

"Sejauh ini terpantau kondusif, kami akan tetap berjaga hingga jalannya sidang selesai. Penjagaan dilakukan untuk mencegah terjadinya kedatangan masa yang mengganggu lalu lintas, ataupun kenyamanan warga sekitar" kata Aiptu Syarifudin, seorang anggota Binmas Polsek Tamansari, di lokasi kepada Tirto.id, Selasa (13/12).

Menurut dia kasus Ahok ini memang sedikit membikin kegerahan di kawasan Glodok dan sekitarnya, bahkan sebuah hotel terpaksa tutup karena takut terjadi kerusuhan. 

“Tapi gak jadi tutup karena kami sudah menyampaikan imbauan kepada pemilik usaha untuk tetap menjalankan usahanya dengan normal. Karena dapat dipastikan jika terjadi sesuatu maka, pihak kepolisian akan segera mengabarkan kepada empunya usaha,” ucapnya.

Berdasarkan pantauan Tirto, penjagaan cukup ketat dilakukan di depan Mall Glodok City. Kurang lebih 15 polisi bersenjata lengkap terlihat berkumpul di depan Mall.  Sejumlah regu dengan personel sama juga disebarkan pada beberapa titik tak jauh dari Mall. Sementara beberapa toko tampak tutup pada hari ini namun jumlahnya tak sebanyak kemarin. 

Jefry, warga turunan Tionghoa yang memiliki toko di dalam Glodok Plaza menyampaikan pada Senin lalu banyak toko tutup, namun sekarang idak terlalu banyak. Ia menduga hari ini pedagang merasa jauh lebih aman untuk membuka toko mereka karena sudah dijaga aparat keamanan. 

"Ya, memang gara-gara dia (Ahok). Omongannya harusnya bisa  dijaga. Gara-gara dia kemarin banyak yang sampe tutup lho..." katanya dengan raut kesal sambil menghisap merokok. Sebagai etnis minoritas dia tak bisa menutupi keresahannya terhadap kasus Ahok yang oleh beberapa oknum dikaitkan menjadi isu SARA.

Di kawasan parkir Glodok Plaza pada sebuah warung kopi terlihat kerumunan orang berkumpul menonton sidang Ahok secara langsung. “Alah udah bungkus! buang aja!” 

Celetuk seseorang pengunjung dengan tatapan mata yang terfokus pada televisi. Entah maksud apa dia mengatakan itu.  Sang pemilik kios, Urip yang sibuk melayani pembeli hanya bisa terpelongo melihat televisi. "Rame orang di sana datang ya,”

Engkong seorang tukang parkir yang tiba-tiba datang nimbrung ikut-ikutan berkomentar. Pria berambut putih gondrong itu menegaskan dia adalah pendukung Jokowi-Ahok saat Pilkada 2012. "Saya dulu pilih dulu, karena memang benar bagus kerjanya benerin Jakarta. Kalau dia (Ahok) gak ngomong begitu, kan  udah pasti dia aman,"kata dia. [tid]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…