Portaldunia.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia memasuki tiga tahun pemerintahan Joko Widodo diprediksi akan mengalami perlambatan hingga mendekati di bawah 5 persen. Hal ini terjadi akibat faktor ekonomi global yang semakin kompleks dan berbagai tantangan ekonomi domestik serta kondisi politik nasional yang tidak kondusif di tahun 2017 nanti.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Puyuono. Menurut Arief, faktor politik nasional yang tidak kondusif menjadi salah satu faktor utama yang akan menyebabkan investor enggan untuk melakukan investasi di Indonesia.

"Kasus Ahok dan kasus penangkapan aktivis pro Demokrasi yang dianggap Makar merupakan sebuah catatan yang bisa terus menciptakan politik nasional tidak kondusif di dalam negeri," jelasnya dalam keterangan pers (Senin, 12/12).

Bagaimana tidak, menurutnya, Aksi Bela Islam dan penangkapan aktivis dituduh makar bisa saja dianggap oleh investor swasta dan luar negeri sebagai bentuk dari ketidakmampuan Joko Widodo dalam mengkonsolidasi kekuatan politik yang bisa mendukung pemerintahan dengan solid  dan kuat.

Pasalnya menurut dia, para analis Investasi dan bisnis sangat tahu bahwa Joko Widodo sendiri belum berhasil mengkonsolidasikan parpol yang di dalam dan di luar pemerintahan untuk mendukung pemerintahan itu sendiri.

"Sebab dari pengalaman Soeharto saja Golkar yang 32 tahun di asuh dan dibesarkan Pak Harto bisa membelot ketika kekuatan people power mendesak Soeharto mundur. Sedangkan TNI tidak juga mempertahankan Soeharto untuk tidak jatuh padahal berapa Soeharto itu sangat dekat dengan TNI. Artinya Joko Widodo sangat rentan untuk diturunkan," ketusnya.

Sumber: Rmol
Share To:

Portal Dunia

Post A Comment: