Skip to main content

Tragis, Sehari Jelang Pernikahan Sang Mempelai Pria Dan Keluarganya Tewas Tertimpa Bangunan Ruko

ilustrasi

Seharusnya, Kamis (8/12) merupakan hari bahagia bagi Yusra Fitriani dan Suharnas. Sebab, pada hari itu, mereka berencana melangsungkan pernikahan. Namun, takdir berkata lain. Sehari sebelum hari H, gempa besar di Pidie Jaya pada Rabu (7/12) lalu menewaskan calon mempelai pria.

AMRIZAL ARNIDA, Aceh

Semua persiapan pernikahan itu sudah rampung. Undangan telah disebar, tenda dan peralatan pesta mulai dipasang, bahkan busana yang akan dikenakan kedua mempelai sudah disiapkan secara khusus. Kamar pengantin untuk menyambut malam pertama pun sudah disiapkan.

Mempelai perempuan, Yusra Fitriani, 31, sudah tidak sabar menunggu saat paling sakral dalam perjalanan hidupnya itu. Dia berkali-kali mematut di depan cermin. Perempuan asal Desa Dayah Timu, Meureudu, Pidie Jaya, Aceh, itu tidak ingin mengecewakan kekasihnya, calon suaminya, Suharnas, 33, pemuda asal Kota Meureudu, Pidie Jaya. Karena itu, setiap saat Fitri –panggilan calon mempelai perempuan– memandangi diri dari ujung kaki hingga pucuk rambutnya di depan cermin.

Namun, siapa menyangka, sehari sebelum hari H pesta pernikahan digelar (7/12), gempa dahsyat berkekuatan 6,5 skala Richter (SR) terjadi di wilayah Pidie Jaya. Ratusan rumah hancur. Sejumlah fasilitas umum ambruk. Tidak sedikit rumah ibadah yang rusak. Ratusan orang menjadi korban, luka-luka maupun meninggal dunia tertimpa reruntuhan bangunan.

Tak diduga, salah seorang korban meninggal itu adalah sang calon pengantin pria, Suharnas. Dia tewas tertimpa bangunan rumah toko (ruko) milik orang tuanya, Suhatril dan Muharnizar (keduanya sudah meninggal).

Saat kejadian, Suharnas tengah tidur di ruko lantai 2 tersebut. Pagi itu, sekitar pukul 05.00, dia belum bangun dari tidur lelapnya. Akibatnya, ketika gempa terjadi, almarhum tidak sempat menyelamatkan diri. Jasad tubuhnya ditemukan tertimbun reruntuhan bangunan tempat usahanya itu.

Tragisnya lagi, tujuh anggota keluarga Suharnas juga menjadi korban meninggal dengan posisi yang hampir sama, tertimpa dinding beton ruko di pinggir jalan besar tersebut. Tujuh anggota keluarga Suharnas tersebut adalah Rina, 45 (kakak kandung) dan Heru, 50 (suami Rina), serta  3 anaknya, Nanya, 13; Nabil, 5; dan Nauval, bayi 3 bulan. Korban lainnya, Riska Sukma Aini, 23 (adik kandung), bersama suaminya, Murhadi, 24, warga Desa Meunasah Bi, Meurah Dua, Pidie Jaya.

Sudah pasti duka mendalam dirasakan keluarga Suharnas. Juga keluarga Fitri, calon mempelai perempuan. Fitri ketika ditemui Rakyat Aceh (Jawa Pos Group) di rumahnya tak mampu menahan kesedihan yang dirasakan. Sepanjang hari dia hanya menangis di kamar. Tubuhnya lemas tak berdaya. Matanya sembap.

Setelah kondisi memungkinkan, Fitri bercerita bahwa rencana pernikahannya sudah dipersiapkan dengan matang. Dia bersama sang kekasih sudah siap menyongsong hari bahagia itu. Namun, takdir telah berkata lain.

Sang Khalik menjemput calon mempelai pria sehari sebelum hari H pernikahan. Fitri dan keluarga pun tak bisa menolak takdir Tuhan itu.

’’Kami sudah lama menunggu hari pernikahan itu…,’’ ungkap Fitri dengan mimik menahan tangis. Dia mungkin membayangkan saat-saat bahagia duduk berdampingan dengan pujaan hatinya di pelaminan.

Menurut Fitri, sebenarnya, sebelum menentukan hari akad nikah, kedua calon mempelai mengikat hubungan mereka dengan pertunangan yang direstui kedua keluarga awal November lalu.

’’Dengan pertunangan itu, sebenarnya kami tinggal meresmikan dengan akad nikah yang dijadwalkan hari ini (8/12),’’ ujar putri keluarga M. Yunus dan Raziati tersebut.

Karena itu, berbagai persiapan sudah lama dilakukan kedua pihak keluarga. ’’Beli baju pengantin untuk abang juga bersama-sama. Rumah adat Aceh yang berisi bawaan pengantin ala budaya Aceh juga sudah siap,’’ ujar Fitri.

Untuk melengkapi rencana mereka menikah itu, Fitri dan Suharnas pun sampai perlu membuat foto pre-wedding dengan busana khusus. Foto itu dijadikan bagian dari undangan resepsi pernikahan.

’’Jadi, persiapannya benar-benar sudah lengkap. Insya Allah sudah 99 persen. Namun, apa boleh buat, kehendak Allah berkata lain,’’ tambah Nuriyah, salah seorang kerabat yang mendampingi Fitri.

Fitri mengaku punya banyak kenangan manis bersama almarhum. Selain sifatnya yang ngemong, Suharnas contoh pemuda yang bertanggung jawab. Karena itu, hanya dalam waktu singkat, Fitri bisa merasa yakin Suharnas adalah pilihan hatinya.

”Belum, kami belum berkenalan. Tapi, rasanya kami sudah sangat cocok. Itu sebabnya, kami pun cepat-cepat melakukan pertunangan dan menentukan hari pernikahan. Apalagi, usia kami sudah lumayan,” papar pegawai TU SMPN 1 Meureudu itu.

Jenazah almarhum Suharnas dimakamkan pada Jumat (9/12) di Tempat Pemakaman Umum Tangsi, belakang kantor Koramil Meureudu, Pidie Jaya. Puluhan warga, sanak keluarga, dan teman-teman almarhum mengantar jenazah dari RSUD Pidie Jaya ke peristirahatan terakhir bagi pengusaha muda itu. Tak terkecuali Fitri yang bersikeras ingin mengantar calon suaminya hingga liang lahat.

Meski beberapa kali histeris dan pingsan, Fitri bisa menyaksikan saat jasad Suharnas dimasukkan ke liang lahat. Saat itulah tangisnya makin menjadi-jadi.

”Kami sedih dan prihatin, terutama terhadap calon adik kami, Fitri. Kami berharap Fitri dan keluarganya bersabar dan tabah menghadapi cobaan Allah SWT ini,” ujar Yudi, abang almarhum.

Sumber: batampos

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…