Skip to main content

Tips Ceta Anak Yang Pintar Begini Bun....


Saat belajar, anak membutuhkan bimbingan agar bisa lebih fokus dan mengerti. Jika di sekolah ada guru yang selalu mendampingi, maka di rumah ibu jadi pendamping yang paling tepat. Terutama pada anak-anak yang berusia 3 hingga 7 tahun.

Pasalnya, menurut penelitian yang dilakukan tim dari University College London dan Universitas Essex, Inggris, anak yang ditemani ibunya selama 30 menit setiap hari saat belajar, memiliki level kognitif yang lebih baik.

Begitu juga anak-anak yang ditemani ibunya dalam melakukan kegiatan seru lain, seperti menggambar atau jalan-jalan, selama 30 menit setiap hari, cenderung mempunyai keterampilan sosial yang baik.

Hal tersebut disimpulkan dengan melihat data dari 8.000 anak-anak dan ibu-ibu, yang terkumpul selama lebih dari 16 tahun. Data tersebut dikumpulkan untuk melihat secara detail kondisi apa saja yang mempengaruhi anak-anak di awal-awal perkembangan koginitif dan sosialnya.

" Anak-anak yang menghabiskan lebih banyak waktu belajar dengan ibunya, akan memiliki sikap yang lebih baik saat masuk universitas dan ketika bekerja," ujar Marco Francesconi, profesor ekonomi di Universitas Essex.

" Ibu hanya perlu menghabiskan waktu selama 30 menit hingga satu jam dengan anak-anak mereka setiap hari untuk membantu mereka meningkatkan keterampilan kognitif dan sosial mereka," tambah dia.

Ibu dapat membuat perbedaan yang sangat positif untuk kehidupan anak-anak mereka hanya dengan membuat perubahan kecil. Namun belum diketahui apakah ayah memiliki pengaruh yang sama pada awal perkembangan kognitif anak-anak.

Sumber: dream

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…