Skip to main content

Terbaring Sakit, Alasan Ibunda Perintahkan Peggy Melati Sukma Ikut Aksi 212 ini Sungguh Mengharukan


Peggy Melati Sukma saat Aksi 212 (TransTV)

Banyak kisah menarik dan mengharukan di balik Aksi 212. Tak hanya dari kalangan masyarakat umum, kisah mengharukan juga dialami oleh artis.

Peggy Melati Sukma, salah satunya. Artis cantik itu datang mengikuti Aksi 212 padahal ibunya sedang sakit. Namun di situlah kisah mengharukannya.

Sejak pagi, Peggy telah hadir di Monas. Bersama Urban Syiar dan Yayasan Sahabat Surga di bawah koordinasi Daarut Tauhid, Peggy membagikan madu kepada peserta Aksi 212.

“Dari Urban Syiar sendiri menyediakan 5.000 botol madu dan agak siang juga ada madu curah agar teman-teman kita peserta Aksi terjaga staminanya,” kata Peggy ketika diwawancarai wartawan di Pintu Barat Monas, Jumat (2/12/2016).

Peggy selalu mengikuti rangkaian Aksi Bela Islam. Ia hadir dalam Aksi Bela Islam I pada 19 Oktober lalu dan juga hadir pada Aksi Bela Islam II pada 4 November. Menjelang Aksi Bela Islam III, ibunya sakit sehingga Peggy ingin menemaninya dan tidak ikut ke Monas. Namun, Peggy justru luluh ketika sang ibunda menyuruhnya berangkat untuk turut berjuang menyuarakan hati kaum muslimin.

“Sebetulnya ibunda saya sedang sakit dalam keadaan tidak bisa bangun. Dalam keadaan sakit yang cukup payah, gitu ya. Dan saya sudah menyampaikan bahwa saya tidak akan turun aksi hari ini. Sesuai pesan alim ulama, yang tidak ikut aksi bisa berdzikir dan berdoa dan saya ingin melakukan itu di samping ibu saya. Tapi ibu saya justru mengatakan ini jihadnya beliau,” kata Peggy.

Ibunda Peggy mengatakan bahwa mengirimkan anak-anaknya untuk berjuang membela Islam adalah jihad baginya.

“Tinggalkan Mama, serahkan kepada Allah, insya Allah dijaga oleh Allah,” kata ibunda kepada Peggy.

Peggy pun berharap pahala dari kesertaannya dalam Aksi 212 menjadi amal shalih bagi ibunya.

“Insya Allah ini jihad ibu saya, mudah-mudahan Allah memberikan kesembuhan bagi beliau. Mudah-mudahan, jika ada pahala yang diberikan Allah dalam aktifitas ini maka itu adalah untuk ibu saya, insya Allah,” harap Peggy. [Ibnu K/Tarbiyah.net]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…