Skip to main content

Tega banget! Pasangan Asal Tiongkok Tega Jual 3 Anak Mereka Demi Game Online

Ilustrasi

Apapun bentuknya, bentuk perdagangan manusia sangatlah dilarang dan tidak berperikemanusiaan. Apalagi bila perdagangan manusia itu dilakukan oleh orang tua sendiri. Sungguh terlalu!

Pasangan suami istri di China ini merupakan salah satu contoh yang buruk. Mereka tega menjual ketiga buah hatinya sebagai sumber dana untuk hobi nge-game mereka. Karena kehabisan dana untuk bermain game online di warnet, pasangan bernama Li Lin dan Li Juan ini tega menjual ketiga anaknya seharga 67 juta rupiah!

Pasangan ini bertemu di warung internet pada tahun 2007 karena keduanya memiliki hobi yang sama, yakni bermain game online. Kesamaan hobi itulah yang membuat kedua orang ini jatuh cinta lalu memutuskan untuk menikah.


Setetelah menikah, hobi keduanya bermain game online tidaklah berkurang. Keduanya masih aktif pulang pergi ke warnet untuk menyalurkan kegemaran mereka tersebut. Bahkan ketika anak pertama mereka lahir pada tahun 2008 lalu, mereka berdua tega menelantarkan anak mereka di rumah sendirian hanya untuk bermain game online di warnet.

Setelah dikaruniai tiga orang buah hati pun, suami istri ini masih belum sembuh dari kecanduan bermain game mereka. Hingga akhirnya mereka berdua kehabisan dana untuk melakukan kegemarannya dan berpikiran untuk menjual anak mereka sebagai sumber dana bermain game. Hasilnya, anak pertama dan kedua mereka jual seharga 61 juta rupiah. Dan anak ketiga mereka dijual seharga 6 juta rupiah.

Otak dari tindak tak terpuji ini adalah sang ibu, Li Lin. Ketika ditangkap polisi karena tindak perdagangan manusia pun, Li Lin tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. "Kami tidak ingin membesarkan mereka. Kami hanya ingin menjual mereka untuk mendapatkan uang." ujar Lin dikutip dari viral4real.com, Jumat (9/12/2016).

Sumber: konfrontasi

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…