Skip to main content

Tangisan Ahok di Persidangan Norak dan Lebay (strategi menarik perhatian rakyat gagal, udah pada tahu)



Dalam sidang pembacaan esespi, terdakwa Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tak kuasa menahan air mata karena dituduh telah melakukan penistaan agama.

Ketua DPP Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Habiburokhman mengaku aneh dengan Ahok yang menangis di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Utara (eks Pengadilan Jakarta Pusat).

Menurut dia, Ahok yang meneteskan air mata sangat tidak wajar. Sebab, dia tidak mendapat tekanan apa-apa. Apalagi dengan status terdakwa namun tidak ditahan oleh pihak kepolisian.

“Enggak ditahan kok nangis. Saipul Jamil dan Jessica Kumala Wongso karena keadaan terterkan ditahan. Karena itu Ahok sangat norak dan lebay,” ujar  Habiburokhman di Pengadilan Neger Jakarta Utara, Jumat (16/12).

Karenanya, apa yang dilakukan oleh mantan Bupati Belitung hanya untuk strategi menarik perhatian. Kalau dalam kasus penistaan agama Ahok seolah menjadi orang yang terzalimi.

“Ini strategi menarik perhatian rakyat,” katanya.

Sebelumnya dalam sidang perdana kasus penistaan agama Islam yang beragendakan pembacaan surat dakwaan oleh jaksa penuntut umum, Ahok membacakan eksepsinya di depan Majelis Hakim.

Saat membacakan espsinya Ahok terdengar menangis terisak saat menceritakan orang tua dan saudara angkatnya yang memeluk Islam. Dari penjelasannya, dia merasa seperti tidak menghargai keluarga angkatnya jika menghina atau menista agama Islam.

Adapun sidang selanjutnya akan digelar pada Selasa pekan depan, 20 Desember 2016, di lokasi yang sama, yakni Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Jalan Gadjah Mada Nomor 17 Jakarta Pusat atau bekas gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (Fajar/JPG)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…