Skip to main content

Tak Ada yang Menolongnya saat Jadi Korban Pelecehan Seksual, Artis Tina Dutta merasa Kecewa

ilustrasi

MUMBAI – Artis cantik Tina Dutta mengaku menjadi korban kekerasa seksual di dalam pesawat terbang. Bintang serial Uttaran itu mengaku bagian tubuhnya diraba penumpang pesawat yang duduk di belakangnya.

Kejiadian tersebut bermula saat Tina Dutta naik pesawat Airways dari Mumbai ke Rajkot, kemarin pagi. Pemeran Icha dalam serial Uttaran ini duduk bersama manajernya.

Saat berdiskusi dengan manajernya, tiba-tiba penumpang pria yang duduk di belakang menjulurkan tangan lewat celah kursi. Penumpang tersebut berusaha menyentuh bagian sensitif Tina Dutta.

Awalnya, Tina Dutta mengira orang yang menjulurkan tangannya secara tidak sopan adalah anak kecil. Namun ketika Tina menoleh ke belakang, ternyata pelakunya adalah pria dewasa.

Tina Dutta lantas menceritakan pengalaman buruknya itu di media sosial. Tina mengaku kecewa lantaran laporannya ke pramugari tak ditanggapi alias dicuekin. Tina juga kesal karena tidak ada yang membantunya di pesawat saat mengalami kekerasan seksual.

“Ini adalah salah satu insiden mengerikan yang saya alami saat bepergian. Saya telah melakukan perjalanan setengah dari dunia, tetapi tidak pernah mendapati pengalaman mengerikan seperti ini,” ujar Tina Dutta.

Tina mengatakan, saat dalam perjalanan dari Mumbai ke ke Rajkot untuk menghadiri sebuah acara, dia duduk di kursi 30A dan manajernya duduk di 30C. Keduanya membahas beberapa topik terkait pekerjaan.

“Tiba-tiba saya merasa bahwa seseorang sedang mencoba menjulurkan tangannya dari belakang melalui sela-sela kursi. Seorang penumpang yang duduk di kursi 31A dengan nama Rajesh mencoba mencoba menyentuh saya dengan tidak sopan. Pada awalnya saya pikir itu anak-anak, tapi ketika saya menoleh ke belakang saya kaget melihat pria dewasa. Saya berteriak padanya. Ia gagap dan malu serta langsung meminta maaf,” ujar Tina.

Saat itu juga Tina langsung menghubungi pramugari Pooja dan Abhijeet untuk segera menindaklanjuti masalah itu. Namun keduanya sama sekali tidak membantu. Sebaliknya justru memberitahukan bahwa hal-hal seperti itu juga terjadi sebelumnya dan mereka akan mengubah kursi pria itu di dalam pesawat.

“Aku menuntut agar pria itu diturunkan. Tapi saya diberitahu bahwa saya juga harus diturunkan untuk melaporkan keluhan. Saya diminta untuk berbicara langsung dengan kapten pesawat,” imbuhnya.

Setelah kejadian tersebut, Tina Dutta khawatir dengan keselamatan banyak perempuan di India di atas pesawat. Pasalnya tidak ada yang membantu ketika Tina menjadi korban kekerasan sesksual.

“Pertanyaan saya bagaimana jika ini terjadi pada anggota keluarga mereka. Apakah mereka masih begitu tenang menanggapi masalah seperti ini,” tanya Tina, seperti dilansir bollywoodpapa, Senin (12/12/2016).

Tina merasa kecewa karena tidak seorang pun di pesawat yang mendukung laporannya, kecuali satu keluarga. Tina pun mempertanyakan standar keamanan di pesawat Airways.

“Saya punya beberapa pertanyaan serius untuk Jet Airways, apakah Anda tidak memiliki standar keamanan? Saya dilanggar dan tidak ada tindakan yang diambil selain memindahkan pria itu dari kursinya. Saya tidak akan naik pesawat ini lagi,” imbuhnya.

“Saya benar-benar muak dengan peristiwa yang terjadi pagi ini. Seperti (perempuan) di India, tidak ada yang mendengar suara mereka. Semua orang yang duduk (di kabin) hanya menikmati insiden itu. Ini konyol, aku bertanya-tanya bagaimana jika kejadian itu dialami keluarga mereka, apakah mereka masih tetap tenang?” pungkas Tina Dutta.

Sumber: pojoksatu

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…