Skip to main content

Taipan Cina Kerahkan Massa 4 Desember, Katanya Demo Tandingan Aksi 212

Taipan (konglomerat) Cina dikabarkan akan mengerahkan massa untuk mengikuti aksi 4 Desember, besok. Aksi damai yang akan dilakukan di Bundaran HI, Minggu pukul 06.00 – 11.00 WIB ini disebut-sebut sebagai demo tandingan Aksi 212 yang diikuti 3 juta umat Islam dari berbagai daerah.

Salah satu perusahaan Taipan Cina yang disebut-sebut ikut ambil bagian dalam aksi 4 Desember besok adalah Bank Artha Graha. Bank ini adalah milik pengusaha Indonesia keturunan Cina, Tomy Winata atau yang akrab disebut TW.

Sebuah memo dengan kop surat Bank Artha Graha beredar di media sosial (medos) dan aplikasi WhatsApp (WA). Dalam memo Nomor: MAK/249/DSDM/XII/2016 itu disebutkan bahwa semua karyawan Bank Artha Graha, mulai dari level kepala divisi, koordinator wilayah, hingga sopir dan office boy, wajib ikut aksi 4 Desember.

“Dalam rangka kepedulian terhadap persatuan dan kebersamaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka dengan ini disampaikan kepada seluruh karyawan Bank PT Artha Graha Internasional, Tbk (dari level kepala divisi/koordinator wilayah hingga sopir dan office boy) KPNO dan Cabang Jakarta, wajib ikut serta dalam kegiatan aksi damai tersebut yang dilaksanakan di Bundaran HI pada hari Minggu tanggal 4 Desember 2016 jam 6.00 – 11.00 WIB, dengan menggunakan kaos kuning Artha Graha Peduli atau kaos kuning, serta menggunakan sepatu casual (bukan high heels untuk wanita),” demikian isi memo yang ditujukan kepada karyawan Bank Artha Graha.
Selain perusahaan Taipan Cina, partai politik pendukung dan pengusung calon Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok juga dikabarkan akan mengerahkan massa, seperti Partai Golkar dan Nardem. Bahkan, massa dari kedua partai tersebut tak hanya datang dari Jakarta, tapi juga dari Jawa Barat dan Banten.
Golkar akan mengerahkan massa sebanyak 120 ribu orang. Riciannya massa Golkar DKI Jakarta sebanyak 30.000 orang, Golkar Jawa Barat 67.500 orang, dan Golkar Banten mengerahkan massa sebanyak 27.500 orang.

“Biaya bus dan konsumsi peserta dianggung DPP Partai Golkar dan biaya operasional lainnya diharapkan pasrtisipasi bersama dari anggota DPR RI, anggota DPRD Provinsi, dan anggota DPRD Kabupaten yang bersangkutan di masing-masing dapil,” demikian disebut dalam surat DPP Partai Golkar Nomor: B.871/Golkar/X1/2016 tertanggal 29 November 2016. [pojoksatu]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…