Skip to main content

Sudah 4 Tahun, Dokter Ini Tak Pernah Pasang Tarif untuk Persalinan Bayi Perempuan, Apa Alasannya?

ilustrasi

Pune, Di masyarakat India ada pandangan kuat yang menganggap bayi laki-laki lebih berharga daripada perempuan. Ketika tahu anak yang dikandung berkelamin perempuan, banyak keluarga memilih melakukan aborsi.

Dampaknya terlihat dari laporan sensus penduduk India tahun 2011 ada sekitar 914 anak perempuan untuk setiap 1.000 anak laki-laki di usia tujuh tahun. Jelas ada ketimpangan yang membuka mata seorang dokter dari kota Pune.

"Untuk seorang dokter hal terberat yang bisa ia katakan pada kerabat adalah bila pasiennya meninggal. Untuk saya hal yang sama sulitnya adalah memberitahu keluarga bahwa mereka memiliki anak perempuan," ujar dr Ganesh Rakh yang pada tahun 2007 membuka rumah sakit (RS) kecil.

"Mereka akan bergembira dan membagi-bagikan camilan bila anak laki-laki yang lahir. Tapi bila anaknya perempuan mereka akan meninggalkan RS, sang ibu menangis, dan keluarga meminta diskon. Mereka akan sangat kecewa," lanjut dr Ganesh seperti dikutip dari BBC, Rabu (14/12/2016).

Menyadari betapa buruknya situasi yang ada, dr Ganesh bertekad untuk membuat suatu perubahan dimulai dari dirinya sendiri. Pada tahun 2012 RS yang ia kelola mulai tak mengenakan biaya bila pasien melahirkan anak perempuan.

Tak hanya itu saja dr Ganesh beserta koleganya akan datang menghadiahkan bunga kepada para orang tua dan menyalakan lilin. Kue coklat di bawa sambil mereka mengucapkan selamat.

Kini empat tahun setelah kebijakan tersebut berjalan RS dr Ganesh telah membantu persalinan 464 anak perempuan. Pemerintah setempat mengapresiasi apa yang dilakukannya termasuk artis Bollywood Amitabh Bachchan mendeskripsikan dr Ganesh sebagai pahlawan.

Selama beberapa bulan terakhir dr Ganesh juga berusaha menghubungi dokter lain di penjuru negeri untuk mendorong mereka melakukan hal yang sama. Ia ingin minimal satu dokter melakukan persalinan bayi perempuan gratis sekali.

"Saya ingin mengubah sikap dari orang-orang dan dokter. Bila datang hari di mana orang-orang merayakan kelahiran anak perempuan, saya akan kembali memasang tarif. Karena kalau tidak bagaimana caranya saya bisa menjalankan sebuah rumah sakit," ungkap dr Ganesh.

Sumber: detikhealth

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…