Skip to main content

Strategi Memelas dan Menangis, Jangan Mau dibohongin (pakai) Air Mata,

 

Kasus Ahok diproses setelah Polri menerima 14 laporan polisi pada awal Oktober 2016. Pada 16 November 2016, Mabes Polri resmi memutuskan kasus penistaan agama dilanjutkan ke tahap penyidikan dan menetapkan Ahok menjadi tersangka.

Setelah Jaksa Penuntut Umum membacakan dakwaannya, Ahok kemudian menyampaikan Nota Keberatan bahwa dirinya tidak punya maksud menghina agama Islam.

Sambil meneteskan air mata, terdakwa Basuki Tjahaja Purnama menceritakan masa kecilnya dengan orangtua angkat yang beragama Islam.

Ahok menceritakan salah satu pengalamananya dimasa kecil terkait agama Islam. Sebab, Ahok dianggap menistakan agama dengan kalimatnya yang mengutip Surat Al Maidah ayat 51.

"Mana mungkin saya menisatakan agama Islam. Sama saja dengan saya menistakan orang tua angkat saya," ucap Ahok dihadapan sidang.

Sesekali, Ahok berhenti berbicara dan mengambil sapu tangan dari kantongnya untuk mengusap airmata yang menetes mengiringi ceritanya. Ahok juga menyebut-nyebut Gus Dur.

Awas Strategi Memelas

Dilansir Inilah.Com, Jika Ingin Menang, Ini Yang Harus Dilakukan Ahok. Menjadi tersangka kasus dugaan penistaan agama rupanya tak selalu rugi buat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Ditengah rencana sidang perdana kasusnya karena penistaan agama, Ahok bisa saja mendapat 'keuntungan' dari status dan proses hukumnya tersebut.

"Dari sisi popularitas Ahok melaju sendirian. Bagi media mungkin calon lain tidak menarik lagi untuk diliput karena hanya menampilkan hal yang itu itu saja," kata Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio kepada INILAHCOM, Selasa (13/12/2016).

Selain itu, jika Ahok selama proses sidang bisa 'menampilkan' kesan didzolimi, maka Ahok akan banjir simpati.

"Maka elektabilitas dia akan naik kencang. Makanya patut dicitrakan strategi bahwa Ahok dizolimi ini yang akan dilakukan timses Ahok," ungkapnya.

Kini tinggal bagaimana Ahok bisa mengambil kesempatan dari status dan proses hukum yang harus dihadapinya.
- See more at: http://nasional.inilah.com/read/detail/2345331/jika-ingin-menang-ini-yang-harus-dilakukan-ahok#sthash.gV2f37p8.dpuf




Baca baik-baik: "jika Ahok selama proses sidang bisa 'menampilkan' kesan didzolimi, maka Ahok akan banjir simpati." (PortalPiyungan)

Oleh karena itu jangan sampai rasa belas kasih karena Sang Penista menampakkan wajah sedih lalu tidak lantang untuk menyuarakan #PenjarakanAhok. Umat jangan bawa perasaan terhadap masalah hukum.

Berikut tanggapan heboh netizen pada Sidang Perdana Ahok:


Penasihat hukum ahok sedang memberikan pembelaan terhadap ahok dengan mengutip keadilan hukum yang diputuskan nabi muhammad saw dan juga menyanjung tentang ketinggian peradaban islam, keadilan hukum islam, sembari mengajak semua umat agar menjunjung tinggi ketinggian peradaban luhur dan agung tersebut.

Pertanyaannya:
saat diajak untuk menegakkan al-qur'an secara menyeluruh, diajak untuk menegakkan sistem hukum islam, menegakkan daulah khilafah islamiyah, mereka (khususnya penasihat hukum tersebut) bersedia?

Ataukah islam hanya dipakai saat momen-momen dan kasus-kasus tertentu saja? Setelah itu islam layak dibuang / tidak dipakai?

Terus kawal, Janganlah Rasa Belas Kasihan Kepada Ahok Menghalangi untuk #PenjarakanSangPenistaAGAMA, Ingat, semuanya modus untuk cari simpati! Jangan mau dibohongin pakai macam-macam!

AIR MATA BUAYA

Sekretaris Fraksi Partai Amanat Nasional Yandri Susanto mengatakan tangisan Gubernur non aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam persidangan kasus penodaan agama di Pengadilan Negeri Jakarta Utara adalah air mata palsu demi mencari simpati.

“Saya kira itu nangisnya air mata buaya, itu Modus.‎ Tujuannya nyari simpati,” kata Yandri di DPR, Selasa (13/12/2016).

Dia menyayangkan nota pembelaan yang disampaikan Ahok dalam persidangan kali ini. Anggota Komisi II DPR ini menganggap pernyataan Ahok telah mencederai proses pemilihan kepala daerah yang sudah berjalan karena menuduh politisi menggunakan ayat Al Quran untuk menang.
Selain itu, yang disampaikan Ahok dianggap tak tulus. Pembelaan Ahok ini, tambahnya, justru malah akan membuat kegaduhan baru.

“Artinya, apa yang dilakukan Ahok tidak menyejukan. Oleh karena itu, seharusnya dia sebagai seorang terdakwa yang mungkin beberapa kali dia minta maaf, sejatinya dia tidak memberikan pembelaan yang seperti itu, yang menurut saya malah menyinggung banyak orang terutama proses pilkada yang sudah berjalan, seolah-olah pilkada yang lalu itu buruk semua,” kata Yandri.
Untuk itu, dia meminta hakim untuk bekerja secara baik dan berpatokan kepada fakta yang ada, bukan atas pembelaan yang disampaikan Ahok hari ini.
“Hakim, saya yakin tidak pengaruh dengan akting dan kata-kata yang disusun, baik terdakwa maupun Pembela. Saya yakin hakim berpatokan dengan fakta yang sudah diungkap polisi kemudian kejaksaan juga sudah sampaikan pasal yang dituduhkan Ahok,” kata dia.
Untuk diketahui, Ahok mengatakan tak terima dituduh menghina Islam. Dalam ruang persidangan, mantan Bupati Belitung Timur ini juga menceritakan kalau dirinya besar di keluarga Muslim sehingga mustahil melakukan penghinaan terhadap agama keluarga angkatnya.

“Berkaitan dengan persoalan yang terjadi saat ini, di mana saya diajukan di hadapan sidang, jelas apa yang saya utarakan di Kepulauan Seribu, bukan dimaksud untuk menafsirkan Surat Al Maidah 51 apalagi berniat menistakan agama Islam, dan ‎juga menghina para ulama. Namun, ucapan itu saya maksudkan untuk para oknum politisi yang memanfaatkan Surat Al Maidah 51, secara tidak benar karena tidak mau bersaing secara sehat dalam persaingan Pilkada,” kata Ahok dalam nota keberatannya terhadap dakwaan, Selasa (13/12/2016). (suara)


Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…