Skip to main content

Sstt..Ini Nih Yang Dibahas Presiden Jokowi Dengan Wakil Presiden India


Presiden Joko Widodo membahas penyebaran Islam yang damai dan rahmatan lil alamin atau rahmat bagi lingkungan dengan Wakil Presiden India Mohammad Hamin Ansari.

Pembicaraan keduanya dilakukan saat Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Wakil Presiden India Mohammad Hamin Ansari di Kamar Kepresidenan, The Leela Palace Hotel, Senin petang.

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi yang mendampingi Presiden Jokowi dalam pertemuan itu mengatakan, kedua tokoh membahas mengenai masalah kerja sama untuk menyebarkan Islam yang damai dan rahmatan lil alamin.

"Kebetulan Wakil Presiden India juga beragama Islam dan kalau kita lihat Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar, maka India adalah nomor dua karena 170 juta penduduk India adalah beragama Islam," kata Menlu Retno.

Pertemuan itu dilakukan setelah Presiden Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan PM India Narendra Modi di Hyderabad House dalam rangkaian kunjungan kerjanya ke India.

Menteri Retno mengatakan, beberapa isu-isu strategis yang dibahas dalam pertemuan dengan India yakni terkait peningkatan kerja sama di bidang ekonomi khususnya diversifikasi perdagangan dan menghilangkan hambatan-hambatan kerja sama perdagangan kedua negara.

"Yang kedua adalah keinginan Indonesia untuk memperkuat kerja sama di bidang investasi terutama di bidang industri bahan baku obat," katanya.

Hal lain yang juga dibahas yakni kerja sama di bidang sosial budaya yakni di bidang pendidikan dengan membentuk Indonesian Chair di universitas di India dan Indian Chair di universitas di Indonesia.

Dalam pertemuan itu, Presiden selain didampingi oleh Menlu Retno Marsudi juga didampingi Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Duta Besar Indonesia untuk India Rizal Wilmar Indrakesuma.

Sumber: beritasatu

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…