Skip to main content

Spanduk "Kami Bukan Teroris" Terbentang di Monas


JAKARTA - Aksi Bela Islam Jilid III atau yang dinamakan pula Aksi Super Damai di Monas hari ini (2/12) rupanya juga diikuti ratusan warga Kaltim. Bahkan mereka membentangkan spanduk yang bertuliskan "Pak Awang, Gubernur Kaltim! Kami Bukan Teroris" dan dibawahnya ada tulisan Aliansi Kerukukan Umat Beragama Kalimantan Timur.

Salah seorang peserta aksi, M. Alfiansyah Oky berkata bahwa aksi ini adalah wujud persatuan umat Islam dari seluruh Indonesia yang bertujuan mengukuhkan NKRI dan menyatukan Bhinneka Tunggal Ika.

"Kami tidak ada niat dan tindakan seperti yang disampaikan Gubernur Kaltim bahwa kami calon teroris. Kalau para ustaz, habib dan tuan guru menyatakan yang hadir ini 100 persen calon penghuni surga," kata Oky saat dikonfirmasi btv.prokal.co melalui sambungan seluler.

Kehadiran ratusan warga Kaltim termasuk dari kota Balikpapan untuk menyampaikan pada Pemerintah Pusat bahwa aksi ini Super Damai. "Kami hadir ingin mengawal proses hukum terhadap Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menjadi tersangka atas kasus dugaan penistaan agama," tegasnya.

Tidak hanya itu, warga Kaltim yang ada di Monas juga untuk membuktikan bahwa tidak ada satu pun niatan jahat seperti disangkakan sebelumnya seperti makar hingga terorisme.

"Buktinya Presiden RI hadir di Monas. Apa pak Gubernur tidak malu telah melarang warganya, sedangkan Pemerintah Pusat justru welcome," pungkas Oky.

Sehari sebelumnya, 1 Desember 2016, empat warga Balikpapan telah dicekal keberangkatannya untuk ikut Aksi Bela Islam Jilid III di Jakarta. Dan pada 23 November lalu Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin telah mengeluarkan maklumat terkait pelarangan warga Kaltim berunjuk rasa di Jakarta.

Pada hari yang sama, Gubernur Kaltim Awang Faroek juga mengeluarkan pernyataan kontroversial saat silaturahmi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah di aula Makodam VI Mulawarman. Saat itu Awang menyatakan bahwa warga Kaltim yang ikut aksi Bela Islam Jilid III di Jakarta adalah calon teroris.

""Kita jaga jika ada warga Kaltim yang ikut demo, mereka itu adalah calon-calon teroris yang perlu kita waspadai," lontar Awang saat itu. (Anggie Dhonny/BTV)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…