Skip to main content

Samarinda Krisis BBM


Kesulitan warga Samarinda, Kalimantan Timur, mendapatkan BBM Pertamax dan Pertalite, masih berlanjut hingga sepekan ini, meski pemerintah memberlakukan harga baru BBM non subsidi itu, per tanggal 16 Desember 2016. Hingga dini hari tadi, warga masih antre panjang di 2 SPBU yang beroperasi 24 jam.

Dapatkan diskon Rp 300,000 untuk tiket libur Natal & Tahun baru-muPantauan merdeka.com, pengguna kendaraan baik roda empat dan roda dua, sudah antre mengisi Pertalite sejak Jumat (16/12) malam tadi, di SPBU Coco (Company Owned Company Operated) milik Pertamina. Pengantre rela masuk deretan panjang puluhan roda 2 yang antre, demi mendapatkan Pertalite, lantaran Pertamax habis.

"Kalau besok baru ikut antre, nanti habis lagi. Siang tadi kan SPBU Pertamina ini tutup tidak ada Pertamax dan Pertalite. Padahal saya masuk kerja pagi. SPBU Pertamina saja bisa kosong, apalagi SPBU swasta," kata Lukman, warga Jalan Sentosa, kepada merdeka.com, di tengah antrean di SPBU Coco 24 Jam di Jalan Kesuma Bangsa, Samarinda, Sabtu (17/12) dini hari.

Pemandangan serupa juga terlihat di SPBU di Jalan Panglima M Noor. Warga mengantre meski sudah sangat panjang.

"Sudah lama antre, mau tidak mau. Kalau tidak ikut antre, subuh ini saya mau antar sayur ke pasar, mobil nanti tidak bisa jalan," ungkap Suryadi (46), warga Jl DI Panjaitan, Samarinda.

Suryadi merasa heran. Dia sempat mengira tidak ada lagi antrean panjang pengisian BBM lantaran Pertamina sudah memberlakukan harga baru BBM. Memang, terhitung sejak 16 Desember 2016 pukul 00.00, harga Pertamax dan Pertalite di Samarinda menjadi Rp 7.750 per liter dan Rp 7.250 per liter.

"Biasakan kalau harga mau naik, itu pasti BBM langka di SPBU. Nanti normal lagi kalau sudah resmi harga naik. Jadi barang lama, menyesuaikan harga baru ikut naik. Ternyata masih saja antre, sulit dapat (Pertalite)," kesal Suryadi.

Terpisah, saat dikonfirmasi, Area Manager Communication and Relations Pertamina Kalimantan, Dian Hapsari, mengatakan, kekosongan stok BBM di SPBU, disebabkan keterlambatan pengiriman BBM tiba di Balikpapan, sebagai pusat Pertamina Kalimantan.

"Iya, karena ada keterlambatan kapal tanker karena kondisi cuaca," kata Dian.

Pertamina mengestimasi sekaligus mengupayakan pasokan BBM ke SPBU di Samarinda, kembali berangsur normal mulai hari ini, Sabtu 17 Desember 2016. "Mudah-mudahan besok aman," demikian Dian.

Sumber: merdeka

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…