Header Ads

Salahkah Bila Ibu Menjadi Lebih Sensitif pada Anaknya yang Remaja?

ilustrasi

Jakarta, Menghadapi anak yang berada dalam fase remaja bukanlah hal yang mudah bagi orangtua. Perubahan hormon yang fluktuatif, seperti lebih sering melawan perkataan orang, adalah salah satunya.

Namun bagaimana bila sebagai orangtua tidak bisa mengontrol perasaannya. Misalnya, ketika anak menaikkan nada suara karena berbeda paham, orangtua menjadi sensitif dan menangis.

"Tidak ada yang salah dengan itu, karena tidak semua orangtua bisa mengontrol perasaan menahan kesedihan melihat anaknya seperti itu," ujar psikolog remaja Elizabeth Santosa dalam acara pengenalan Program Remaja Berani Hidup Sehat oleh Unilever Indonesia, Kamis (15/12/2016).

Normalnya, anak akan merasa ikut bersalah dan segera meminta maaf. Namun, psikolog yang akrab disapa Lizzie tersebut mengungkapkan bahwa hal tersebut tak lantas menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi bila terjadi berulang kali.

Jika demikian, maka bagaimana cara berkomunikasi orangtua sebaiknya diubah agar remaja bisa lebih bisa menerima nasihat atau sudut pandang dari orangtua.

"Coba hindari menggunakan kata 'pokoknya' karena itu menandakan bahwa Anda sebagai orangtua otoriter. Selain itu, gunakan alasan yang menggunakan logika, dimana menjelaskan pro dan kontra dari bahasan Anda berdua," sarannya.

Pemikiran yang logis membuat anak lebih bisa menerima pendapat dengan baik dan secara perlahan. Strategi seperti ini dirasa penting oleh Lizzie karena saat ini remaja bisa mendapatkan informasi lebih mudah melalui dunia maya atau internet sehingga pengetahuan pun lebih banyak diserap dari luar.

"Perlu Anda ingat sebagai orangtua bahwa Anda adalah orangtua terbaik bagi anak Anda," pesan Lizzie memberi semangat pada semua orangtua.

Sumber: metro
Powered by Blogger.