Skip to main content

Saat Pemerintah Pusat Bungkam, Gubernur Ini Tegaskan Dukungan untuk Warga Sipil di Aleppo dan Rohingya


Kaum Muslimin dan warga sipil di Aleppo Suriah masih mendapatkan perlakukan keji dari rezim zhalim dan sekutunya. Anak-anak tak bersalah, para remaja yang seharusnya mengembangkan potensi, dan para lansia harus menanggung akibat atas apa yang tidak mereka perbuat.

Dunia diam. Pemerintah Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim pun belum bersuara, hingga tulisan ini dipublikasikan. Banyak pihak yang menyesalkan, apalagi Presiden Jokowi di masa kampanyenya sempat menyinggung soal perjuangan terhadap rakyat Palestina dan negeri terjajah lainnya.

Meski Pemerintah Pusat bungkam, belum bersuara, kita musti bangga karena Gubernur yang satu ini. Selain berprestasi dan banyak berkarya di bidang lain, bahkan beliau merupakan salah satu penulis produktif, sang Gubernur dengan tegas menyuarakan pembelaannya kepada rakyat sipil di Aleppo Suriah, Rohingnya Myanmar, dan darah konflik lainnya.

"Duka ini duka persaudaraan. Duka ini duka kemanusiaan," tulis Sang Gubernur di akun fesbuk pribadinya.

Atas nama Muslim dan persaudaraan sesama manusia itu, Pemimpin Daerah prestatif ini menegaskan alasan yang sangat logis hingga semua Muslim dan semua manusia harus mendukungnya.

"Jadi, bagi setiap Muslim, pastilah merasakan duka yang sama atas duka Muslim lainnya," tulis sang Gubernur, menyampaikan hujjah.

Sedangkan sebagai sesama manusia, alasan untuk berpihak dan membantu lebih jelas dan tak terbantahkan lagi.

"Jadi, bagi semua manusia, apa pun agamanya, pastilah merasakan duka atas dilanggarnya hak hidup, teror, pembantaian barbar di banyak wilayah," lanjut Sang Gubernur yang terbiasa melakukan blusukan ke daerah terpencil di Provinsi yang ia pimpin menggunakan motor cross ini.

Di akhir unggahannya, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno mengajak kaum Muslimin dan semua manusia mendoakan agar warga sipil segera mendapatkan kemenangan serta kembali mendapatkan hidup yang layak. [Tarbawia/Om Pir]

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…