Skip to main content

Polres Sidoarjo Tangkap Pengedar narkoba Jenis Baru Yang Diduga Ekstasi Jenis Super

ilustrasi

 Polresta Sidoarjo terus mengencarkan operasi peredaran narkoba di wilayah hukum Sidoarjo.

Hasilnya, seseorang Hani Ismanto (37) warga jalan Bengawan GE 19, Rt 75, Rw 09 desa Tropodo Kecamatan Waru Sidoarjo, ditangkap Satresnarkoba, dengan barang bukti sebanyak 2.239 butir ineks seharga Rp.1 miliar.

“Polresta Sidoarjo terus memerangi peredaran narkoba diwilayah hukum Sidoarjo hari ini berhasil mengaman narkoba jenis ekstasi sebanyak 2.239 butir dari tersangka, ” Kata AKBP M.Anwar Nasir Kapolresta Sidoarjo para wartawan, Kamis (15/12/2016).

Pil ekstasi ini jenis baru tergolong yang paling super, dengan warna coklat lumut bertuliskan huruf A.

Setelah ditimbang satu biji seberat 0,28 gram diduga barang haram ini dikirim dari Belanda.

“Tersangka ini sudah dua kali menerima paketan barang haram tersebut. Setiap pengiriman, tersangka mendapatkan upah sebanyak Rp. 5 juta dan bonus sabu-sabu seberat,2,56 gram,” ulas Kapolresta.

AKBP M.Anwar Nasir menjelaskan, tersangka yang bekerja swbagai tukang las kapal ini, ditangkap pada hari Sabtu (03/12/2016) di rumahnya di Perum Griya Permata Tempel Indah Blok A- 3. desa Tempel kecamatan Krian Sidoarjo.

“Tersangka akan di jerat dengan pasal 114 ayat (2) dan atau pasal 112 aayat (2) UU RI nomer 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman 12 tahun penjara,”tutup Kapolresta

Sumber: kabarsidoarjo

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…