Skip to main content

Peradaban Hadits VS Sampah Peradaan (Hoax & Framing)

Karena hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada kita melalui jalur para rawi, maka mereka menjadi fokus utama untuk mengetahui keshahihan atau tidaknya suatu hadits. Karena itu pula para ulama hadits sangat memperhatikan para rawi.

Mereka telah membuat berbagai persyaratan yang rinci dan pasti untuk menerima riwayat para rawi. Ini menunjukkan jauhnya pandangan para ulama hadits, lurusnya pemikiran mereka, dan kualitas metode yang mereka miliki.

Berbagai persyaratan yang ditentukan para rawi dan syarat-syarat lain bagi diterimanya suatu hadits atau berita, tidak pernah ada dan tidak pernah dijumpai pada agama manapun, bahkan hingga pada masa kini, pada diri orang-orang yang mengaku memilki metode yang rinci (khususnya kalangan sejarawan Barat maupun Timur, baik klasik maupun modern).

Mereka tidak membuat dan memiliki persyaratan dalam menerima suatu berita seperti yang disusun oleh ulama mushthalah hadits terhadap para rawi. Bahkan standar yang paling rendah sekalipun. Banyak berita (informasi) yang disampaikan, termasuk oleh berbagai kantor berita (informasi) yang disampaikan, termasuk oleh berbagai kantor berita resmi, tidak bisa dipercaya dan tidak dapat dijadikan pijakan yang benar. Ini disebabkan karena rawinya majhul (tidak jelas dan tidak dikenal). Padahal “tidaklah suatu berita itu cacat, melainkan terletak pada rawinya”. Berita-berita (informasi) yang mereka ekspos banyak yang tidak shahih, dan yang benar hanya sedikit. Apalagi di era sekarang, sulit sekali menentukan mana berita yang valid mana yang hoax.

Demikian juga dalam tata cara penerimaan dan periwayatan hadits, dibahas secara terperinci dalam teori tahammul wal ada. Kafiyatu sima’ al-hadits (tata cara mendengar hadits) adalah hal-hal yang sudah semestinya dan disyaratkan bagi orang yang ingin mendengarkan hadits dari para gurunya, mendengarkan riwayatnya secara benar dan menerimanya, setelah itu disampaikan kepada orang lain. Adapun tahammul (penerimaan) adalah jalur-jalur pengambilan dan penerimaannya dari para guru. Sedangkan yang dimaksud dengan bayanu dhabthihi adalah bagaimana sang pencari hadits memelihara hadits yang telah diterimanya untuk meriwayatkan hadits tersebut kepada orang lain, dalam bentuk yang memuaskan.

Para ulama musthalah hadits memberi perhatian terhadap cabang dari ilmu hadits ini. Mereka telah meletakkan berbagai kaidah, peraturan, syarat-syarat dalam bentuknya yang amat rinci dan mengagumkan, membedakannya dengan jalur-jalur penerimaan hadits, dan membuatnya secara bertingkat-tingkat; sebagian ada yang lebih kuat dibandingkan dengan yang lainnya.

 Hal itu memperkuat perhatian mereka terhadap hadits-hadits Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam memberi jaminan yang baik dalam hal pemindahan (hadits) dari satu orang kepada orang lain, agar seorang muslim merasa tenang dengan metode yang menghantarkan hadits Rasulullah kepdanya; dan yakin bahwa metode ini merupakan puncak dari ketelitian dalam verifikasi.

Sebenarnya fake news atau berita hoax hanya salah satu masalah. Ada masalah lain yang lebih prevalen atau mudah menyebar dan memiliki daya rusak yang lebih besar. Itulah bias, setting, framing, propaganda, dan informasi yang sengaja dibuat untuk menyesatkan.

Jika medi sosial rawan dengan berita hoax, maka media masa mainstream (cetak/elektronik) diduga rawan framing. Tergantung kepentingan stakeholder. Inilah pula yang bisa kita lihat dari ramainya ketidakpercayaan publik pada beberapa media masa, sehingga salah satu penampakannya adalah dengan ramai tagar #BoikotMetroTV sejak beberapa hari lalu.

Dalam tradisi hadits hal tersebut sudah dilalui secara sempurna (baik karena terputusnya sanad maupun cacatnya pembawa berita) dengan lahirnya ilmu dan musthalah hadits. Oleh karena itu fakta hari ini dimana kita jumpai bertebarannya fake news, setting, framing, bias, dll; hakikatnya bukan kemajuan sebuah peradaban tetapi itu merupakan SAMPAH PERADABAN. []
Yuana Ryan Tresna, Pengasuh Majelis Kajian Hadits Khadimus Sunnah Bandung

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…