Skip to main content

Pengungsi Muslimah Rohingya: Militer Myanmar Bunuh 7 Anak Saya

Portaldunia.com, DHAKA - Seorang pengungsi Rohingya mengungkapkan bahwa ia telah kehilangan 7 anaknya akibat kekerasan yang dilakukan oleh pasukan Myanmar. Ia sendiri bahkan menjadi korban perkosaan dan terpaksa mengungsi ke Bangladesh.

Noor Ayesha menjaga dengan ketat anaknya yang masih hidup ketika perahu yang mereka tumpangi menyebrangi perairan Bangladesh. Aisyah terpaksa meninggalkan kampung halamannya dengan sejuta kisah pilu. Rumahnya dibom, suaminya mati, tujuh anaknya dibunuh dan para prajurit Myanmar memperkosanya.

"Sekitar 20 dari mereka (tentara Myanmar) muncul di depan rumah saya," kata wanita Rohingya berusia 40 tahun itu. Ia kembali mengingat persitiwa di pagi hari pada bulan Oktober ketika desanya diserang oleh ratusan pasukan pemerintah Myanmar.

"Mereka memerintahkan kami semua untuk keluar ke halaman. Mereka memisahkan lima anak-anak kami dan memaksa mereka ke dalam salah satu kamar kami dan mengenakan kait dari luar. Kemudian mereka menembakkan gun-bomb ke ruangan itu," tuturnya seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (10/12/2016).

"Lima dari anak-anak saya dibakar sampai mati oleh tentara. Mereka membunuh dua anak perempuan saya setelah memperkosa mereka. Mereka juga membunuh suami saya dan memperkosa saya," ungkapnya.

Ayesha mengatakan hanya satu anaknya yang selamat dari kegilaan tersebut. Dilnawaz Begum (5) selamat setelah bersembunyti di rumah tetangga ketika tentara tiba di desa Kyat Yoe Pyin, Maungdaw, Rakhine.

Pengakuan Ayesha adalah salah satu dari gelombang laporan pembunuhan di luar hukum, pembakaran dan kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh tentara Myanmar di barat laut negara itu. Pemerintah Myanmar menyangkal tuduhan itu, tetapi PBB mengatakan laporan pemerkosaan dan kekerasan seksual menjadi bagian dari polsa yang lebih luas dari kekerasan bermotif etnis terhadap komunitas Rohingya.

Sekitar satu juta warga etnis Rohingya diperkirakan hidup di negara bagian Rakhine. Aksi kekerasan komunal pada 2012 menyebabkan lebih dari 100.000 dari mereka mencari perlindungan di tempat lain atau menetap di kamp-kamp pengungsian yang sangat ketat.

Rakhine sebagian besar telah ditutup untuk wartawan dan pengamat hak asasi manusia. PBB memperkirakan sekitar 30.000 Muslim Rohingya telah meninggalkan rumah mereka dalam beberapa bulan terakhir, dan citra satelit yang dihasilkan oleh Human Rights Watch menunjukkan 1.250 struktur telah diratakan dalam periode yang sama di desa-desa Rohingya, termasuk 245 di Kyet Yoe Pyin, desa Ayesha.

Sumber: Sindo

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…