Pengamat hukum, Abdul Fickar Hadjar menilai, kata kata Ketua FPI, Habib Rizieq Shihab soal ajakan revolusi belum tentu terindikasi pidana. Pasalnya ucapan revolusi kerap dilontarkan oleh banyak orang tak terkecuali Presiden Joko Widodo sendiri.

“Pak Jokowi juga mengajak revolusi. Revolusi mental, artinya revolusi itu berarti perubahan secara cepat,” kata Abdul kepada Kriminalitas.com di Jakarta, Selasa (6/12/2016).

Menurut Abdul, makar adalah istilah yuridis, sedangkan dalam terminologi politik dikenal sebagai kudeta.

“Makar sebagai upaya memisahkan seluruh atau sebagian wilayah negara agar jatuh ke tangan musuh. Sementara, tujuan makar itu membunuh presiden atau wakilnya, memisahkan sebagian wilayah negara atau menggulingkan pemerintahan yang kesemuanya hanya mungkin terjadi dengan persenjataan,” kata Dosen Universitas Trisakti ini.

Ia melanjutkan, penggulingan kekuasaan, sepanjang dilakukan melalui permintaan sidang MPR adalah sesuatu yang biasa.

“Hanya saja MPR tidak sembarangan bersidang, karena pasca amandemen UUD 45 pengganti pemerintahan melalui sidang MPR itu jika ada pelanggaran hukum, perbuatan pidana berat atau perbuatan tercela oleh kepala negara,” ujar dia.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal DPD Front Pembela Islam (FPI) Jakarta, Habib Novel memastikan seruan revolusi yang disampaikan Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab sesuai dengan konstitusi negara. Revolusi yang diserukan itu akan dilakukan andai Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Purnama (Ahok) lolos dari jerat hukum kasus dugaan penistaan agama.

“Revolusinya ya sesuai dengan konstitusi. Tidak pakai cara-cara yang di luar dari itu. Kita sesuai dengan hukum dan perundangan,” ujar Novel, Selasa (6/12/2016). (Kriminalitas/SN)
Share To:

Portal Dunia

Post A Comment: