Skip to main content

Pengamat Sebut Demo Tandingan 212 Provokatif


Eks relawan Jokowi, Ferdinand Hutahaean mengapresiasi aksi unjukrasa 212 umat Islam yang berjalan aman dan damai.

"Pertama, kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas lindungannya aksi berlangsung baik," ujar dia pada TeropongSenayan di Jakarta, Sabtu (03/12/2016).

Selain itu, lanjut dia, demo 212 semakin mempertegas bahwa aksi tersebut murni karena menuntut keadilan bukan karena adanya tunggangan kepentingan politik.

"Kedua, Kita sangat bangga melihat umat Islam yang hadir kemarin, konsisten dalam tindakan dan ucapan. Tidak ada trik dan intrik palsu atau mengkhianati kesepakatan yang menyatakan aksi super damai dan terbukti super damai. Kita harus memberikan hormat kepada para ulama yang mampu menjaga aksi dengan baik. Dan kepada para umat Islam yang hadir kita ucapkan selamat," tegas dia.

Adapun terkait akan adanya unjukrasa tandingan 412, lanjut dia, hal tersebut memang merupakan hak demokratis setiap warga yang dijamin konstitusi.

Namun, kata dia, alangkah baiknya rencana tersebut dikaji kembali dengan mempertimbangkan kondisi politik saat ini.

"Ketiga, menyangkut rencana aksi 412 yang akan dilaksanakan besok minggu tanggal 4 Desember, memang sebagai bagian dari demokrasi hal itu kita hormati. Namun mengingat saat ini situasi politik sedang tidak baik, maka aksi itu cenderung kontra produktif, provokatif bahkan ingin membentuk opini bahwa ada kontra aksi umat Islam yang lebih besar," ujarnya.

Bahkan, kata dia, Seolah olah tuntutan umat Islam itu tidak layak didengar karena ada kelompok lain yang lebih besar atau minimal sama.

"Sehingga aksi 412 ini sangat kita sayangkan dan tidak seharusnya dilakukan pada saat sekarang ini. Ini gerakan memecah bangsa sesungguhnya meski dikemas dalam acara car free day," tegasnya.

Keempat, adanya edaran-edaran dan himbauan dari lembaga-lembaga negara untuk ikut acara ini adalah pelanggaran hak azasi pekerja.

"Hari minggu itu adalah hari libur, tidak boleh ada pemaksaan untuk ikut acara seperti itu kecuali mereka dibayar lembur. Jika tidak, maka itu pelanggaran kepada hak-hak pekerja untuk mendapatkan hari libur," sindir dia.

"Kelima, presiden sebaiknya bisa lebih bijak, tidak usah hadiri acara itu besok karena akan negatif opininya mengingat acara 412 ini sudah dipandang kontra dari aksi umat islam 411 maupun 212," pungkasnya. (icl)

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…