Skip to main content

Pemimpin Bosnia Serbia : Kaum Muslim yang Pertama "Siap Perang"

Ilustrasi

Pengacara dari Ratko Mladic, Jumat, mengatakan bahwa Muslim Bosnia menyiapkan diri berperang jauh sebelum Jenderal Bosnia Serbia itu menginjakkan kakinya di negara tersebut.

Mladic (74), yang diadili di Denhaag atas dakwaan genosida, pernah menjadi perwira militer federal Yugoslavia, memimpin pasukan Serbia Bosnia dalam perang tiga tahun untuk menciptakan negara dengan suku Serbia murni berpisah dari Bosnia, lapor Reuters.

Perang tersebut mencapai titik nadir dengan pembantaian ribuan Muslim di kota Srebrenica.

Saat menyimpulkan pada akhir sidang Mladic selama empat tahun di Pengadilan Pidana Internasional bagi pecahan negara Yugoslavia itu, pengacara Branko Lukic mengatakan Muslim Bosnia menciptakan suasana ketakutan sebelum perang pada 1992.

"Partai Aksi Muslim Demokratik Bosnia (SDA) sedang mempersiapkan perang," kata Lukic.

Pada waktu itu, Lukic juga mengutip pernyataan pemimpin perang Bosnia Alija Izetbegovic, yang katanya berasal dari "deklarasi Islam".

"Tidak ada perdamaian antara iman Islam dengan lembaga-lembaga sosial dan politik non Islam," katanya.

Jaksa menuntut penjara seumur hidup bagi Mladic karena memimpin pasukan Serbia Bosnia ketika mereka mengepung tempat yang ditunjuk PBB sebagai lokasi aman yaitu Srebrenica dan kemudian membunuh sekitar 8.000 warga Muslim laki-laki lalu mengubur mereka di kuburan massal.

Tapi Lukic mengatakan kepada pengadilan bahwa tidak hanya orang-orang Serbia Bosnia, yang bertanggung jawab atas kekerasan di Bosnia tapi semua pihak, termasuk pejuang mujahidin Arab yang datang untuk berjuang bersama saudara seagama mereka di Bosnia.

Pembantaian Srebrenica merupakan yang terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II, memicu serangan udara NATO yang pada akhirnya mengakhiri tiga tahun perang Bosnia, yang merupakan bagian dari perpecahan Yugoslavia dalam serangkaian perang yang sebagian besar berlangsung pada 1990-an dan menewaskan 130.000 orang.

Mladic dituntut dengan dua dakwaan genosida terkait dengan perang, sementara sekutu lamanya, pemimpin politik Bosnia Serbia Radovan Karadzic, dihukum dengan dakwaan genosida pada tahun ini dan dijatuhi hukuman 40 tahun penjara.

Sumber: komfrontasi

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…