Skip to main content

Pemerintah Berangkatkan 4 Kapal Navigasi Angkut Bantuan Logistik Ke Aceh

ilustrasi

Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Kenavigasian Direktorat Jenderal Perhubungan Laut telah memberangkatkan 4 kapal negara untuk angkut logistik bagi para korban gempa di Pidie Jaya, Aceh.

Keempat kapal negara tersebut adalah KN Antares dari Distrik Navigasi Sabang, KN Arcturus (Belawan), KN Mandalika (Sibolga), dan KN Muci (Teluk Bayur).

“Seluruhnya mengangkut bantuan kemanusiaan hasil sumbangan dari para karyawan Kementerian Perhubungan,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Laut kementerian Perhubungan A. Tonny Budiono, MM., di Jakarta, Minggu (12/12/2016).

Dirjen Tonny mengatakan, Kementerian Perhubungan menyediakan 7 kapal negara untuk mengantarkan logistik korban gempa bumi Aceh melalui jalur laut.

“Totalnya ada 7 kapal yang akan membantu pengiriman logistik ke wilayah bencana gempa di Aceh,” katanya.

Direktur Kenavigasian Ir. Bambang Wiyanto, MM., mengatakan, KN Arcturus dari Distrik Navigasi Belawan, Sumatera Utara telah sampai ke lokasi pada Sabtu, kemarin (11/12/2016).

“KN Arcturus membawa logistik bahan pokok hasil sumbangan dari karyawan Kementerian Perhubungan yang ada di Medan, seperti beras, susu, mie, telur, selimut, pakaian, dan lain-lain,” kata Bambang.

Selain kapal negara milik Distrik Navigasi, Kemhub juga telah memberangkatkan 1 kapal patroli KN Sarotama P.112 dari Pangkalan Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kelas I Tanjung Uban.

KN. Sarotama P.112 bertolak dari Dermaga Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai Tanjung Uban pada Sabtu (10/12/2016) pukul 11.00 menuju Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Keberangkatan kapal tersebut dilepas oleh Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun dan dihadiri oleh beberapa Kepala Dinas Kepulauan Riau antara lain Kepala Dinas Perhubungan dan Kepala Dinas Sosial setempat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait lainnya.

Sumber: beritatrans

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…