Skip to main content

Pasca 212, Umat Islam Ciamis Siap 24 Jam Untuk Kembali ke Jakarta

ilustrasi



Ulama asal Ciamis yang menjadi sosok penggerak aksi jalan kaki ke Jakarta dalam momen Aksi 212 lalu, KH Maksum Ahmad Hasan hadir dalam pengajian bulanan di Markaz Syariah, Megamendung Bogor, Jawa Barat, Rabu (7/12/2016).

Kyai Maksum bercerita, bahwa keputusan melakukan aksi jalan kaki bukan tanpa alasan. "Kami bukan mau cari sensasi, saat itu kami dalam situasi terjepit. Perusahan bus semuanya menolak untuk disewa ke Jakarta, bahkan dua bus yang sudah dibayar uangnya dikembalikan," ujarnya.

Oleh karena itu, kata Kyai Maksum, dengan niat dan tekad yang kuat, setelah melakukan musyawarah saat itu diputuskan untuk melakukan aksi jalan kaki.

Sesepuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Utsmaniyyah, Ciamis itu tidak menyangka, keputusan jalan kaki ternyata membakar semangat para santri dan pemuda-pemudi Ciamis. Tidak hanya Ciamis, umat Islam di daerah-daerah lain juga ikut terpanggil semangat berjuangnya.

"Masyarakat kita itu luar biasa, dari mulai berangkat sampai Jakarta kami banyak menangis. Betapa banyak manusia yang menyapa kami di sepanjang perjalanan, luar biasa," tuturnya.

Namun, kata Kyai Maksum, perjalan tersebut bukan tanpa rintangan. "Tiga kali kami dilobi untuk kembali ke Ciamis. Tetapi jawaban anak-anak santri, kalau kembali lagi berarti kita ada penghianatan, berarti ada kemunafikan. Dan kami tetap bertekad melanjutkan aksi berjalan kaki," ujarnya.

Dengan pengalaman tersebut, ia berpesan kepada umat Islam untuk bersama-sama meningkatkan semangat perjuangan. "Dan masyarakat Ciamis siap 24 jam dipanggil lagi ke Jakarta," tegasnya yang disambut pekikan takbir jamaah.

"Terima kasih atas doa dan dukungannya dan mohon maaf jika perjalanan kami kurang berkenan, mohon maaf kami tidak ada maksud untuk merugikan orang lain," tandas Kyai Maksum.

sumber: suara-islam

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…