Skip to main content

Parah, Masih Tega Saja Israel Penjarakan Palestina?


Pengadilan Militer Ofer Israel pada hari Senin (12/12) Yerusalem memvonis Anggota Parlemen Palestina asal Hamas, Mohammed Abu Teir (65 tahun) dengan hukuman 17 bulan penjara serta denda senilai 8.000 Shekels (28 juta rupiah), bersama dengan hukuman percobaan selama 30 bulan.

Addameer, Organisasi Advokasi Ham dan Dukungan Para Tahanan Palestina yang berbasis di Ramallah menegaskan bahwa keputusan ini dibuat atas campur tangan otoritas pendudukan Israel, sebagaimana diketahui Muhammad Abu Teir telah menghabiskan 11 bulan dalam penahanan administratif, tanpa adanya tuntutan hukum ataupu proses persidangan, dikutip dari MEMO.

Abu Teir ditangkap oleh pasukan pendudukan Israel pada 27 Januari 2016. Dia telah menghabiskan total 34 tahun lamanya dipenjarakan Israel.

Pada tanggal 22 Januari, pasukan Israel menahan Abu Tair setelah menyerbu rumahnya di lingkungan Arab-Palestina Kafr Aqab bagian utara di al-Quds Yerusalem Timur. Seorang juru bicara militer Israel yang tidak disebutkan namanya menggambarkan dia sebagai “operator teror Hamas” pada saat itu, dikutip dari Press TV IR.

Abu Tair bergabung dengan enam anggota Dewan Legislatif Palestina (PLC) lainnya, termasuk pemimpin Fatah Marwan Barghouti dan Sekretaris Jenderal Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) Ahmad Saadat, di dalam penjara pada saat penangkapannya.

Ia terpilih masuk ke Dewan Legislatif Palestina (PLC) sebagai wakil dari partai politik Hamas pada tahun 2006. Abu Their, anggota Parlemen yang kini berusia 65 tahun ini telah menghabiskan setidaknya total 32 tahun di penjara Israel, Ia menjalani puluhan tahun hukuman penjara itu secara terpisah.

Otoritas pendudukan Israel melarang pergerakan Abu Teir dikarenakan gerak aktivisme anti-penjajahannya yang mendapat dukungan luas.

Pemerintah Israel mencabut status tinggal permanen Abu Tair di al-Quds Yerusalem pada tanggal 8 Oktober 2010 setelah lima bulan penahanan.

Rezim Tel Aviv seringkali menargetkan anggota-anggota Parlemen Palestina, terutama yang berafiliasi dengan partai Hamas. Israel telah mencabut izin tinggal mereka di Al-Quds Yerusalem, dan secara paksa memindahkan mereka ke wilayah Tepi Barat.

“Para pemimpin politik Palestina secara rutin ditangkap dan ditahan sebagai bagian dari upaya-upaya Israel untuk menekan proses politik rakyat Palestina, dan sebagai hasilnya, kedaulatan politik dan penentuan nasib sendiri Palestina,” ujar kelompok advokasi hak asasi para tahanan Palestina, “Addameer”.

Addameer menambahkan, “Pasukan pendudukan (Israel) terus menuntut anggota-anggota Dewan Legislatif Palestina sejak tahun 2006, dan secara sewenang-wenang memenjarakan mereka setelah membuat mereka diadili di pengadilan militer, dimana sangat kurangnya jaminan mendapat keadilan.”

Sumber: panjimas

Popular posts from this blog

Soal Ormas Asing, Pakar Hukum: Panglima TNI Imbau Untuk Waspada, Pemerintah Kok Malah Seperti ini?

Portaldunia.com, JAKARTA - Pemerintah diminta untuk mencabut pasal dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 Tahun 2016 yang membolehkan warga negara asing (WNA) mendirikan organisasi masyarakat (ormas).

"Pemerintah harus cabut pasal yang mengatur WNA bisa bikin ormas di Indonesia," kata pakar hukum tata negara Margarito Kamis kepada SiNDOnews, Sabtu (17/12/2016).

Margarito menilai, pasal yang mengatur WNA bisa mendirikan ormas bertentangan dengan semangat melindugi negara dari hegemoni asing.

Padahal, kata dia, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di berbagai kesempatan selalu mengedepankan semangat untuk melindungi masyarakat.

"Panglima TNI selalu imbau kita untuk waspada. Pemerintah kok malah buat peraturan seperti ini," ucap Margarito.

Presiden Joko Widodo pada 2 Desember 2016 telah menandatangani PP Nomor 58 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. PP tersebut membolehkan warga negara asing mendirikan ormas…

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Keterlaluan! Panji Hitam yang Dimuliakan di Aksi 212 Malah Dijadikan Barang Bukti Teroris

Setelah Umat Islam mulai mengenal dan mencintai bendera Islam Al Liwa (bendera putih tulisan tauhid hitam) dan Ar Rayah (panji hitam tulisan tauhid putih), Polisi kembali memainkan dapur opininya untuk memonsterisasi bendera mulia ini.

Sebagaimana dilansir detikNews hari ini 15/12, Kadiv Humas Polri Irjen Rafli Amar melakukan jumpa pers untuk menunjukkan barang bukti teroris#BomPanci di Bekasi beberapa waktu yang lalu. Di antara barang bukti itu ada senapan angin, pisau, mandau, celurit, rice cooker, tabung reaksi, dan bendera Ar Rayah.

Tentu kita bertanya-tanya, kenapa Bendera Ar Royah dimasukan sebagai barang bukti kegiatan teror? Sebagaimana dulu polisi juga pernah memasukkan Al Quran dan Kitab Tafsir sebagai barang bukti teroris.

Tujuan yang pasti dari semua itu adalah monsterisasi simbol-simbol Islam. Sungguh ini merupakan penghinaan yang keji dan keterlaluan.
Ketahuilah Pak Polisi, apapun tenden…

Waspadalah, yang suruh-suruh membubarkan Ormas Islam itu Faham Komunis dan Agen Aseng

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mengatakan, pernyataan politisi PDI-P Eva Kusuma Sundari yang meminta dirinya keluar dari Indonesia jika tidak percaya proses hukum dalam kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dirinya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI.

"Pantas saja politisi PDIP Eva Sundari meminta saya keluar dari Indonesia, karena saya dan FPI sangat anti komunis sehingga menjadi musuh besar PKI. Sekarang ini banyak tokoh dan partai telah disusupi faham komunis atau PKI,” kata Habib Rizieq Shihab dalam pernyataan resminya di web pribadinya, Jumat (9/12/2016).

Agen Asing

Sementara Juru Bicara FPI Munarman mengatakan, umat Islam harus mengetahui sosok Politisi PDIP, Eva Kusuma Sundari yang kerap menyerukan pembubaran ormas Islam seperti FPI, serta mendesak Kemenkominfo untuk menutup situs-situs Islam.

“Hati-hati dengan Eva Sundari itu, dia di bawah kendali warga asing. Dia menyusup ke partai nasionalis agar samarannya se…